Semangatnews.com, Manggopoh – Perlawanan Siti Manggopoh terhadap kolonial Belanda tahun 1908, merupakan semangat bangkit memperjuangkan hargadiri bangsa, dimana kesewenangan kolonial Hindia Belanda itu telah melampau batas dengan menerapkan pajak yang tinggi, termasuk ada pajak orang dewasa. Dan yang tak kalah memprihatinkanya prilaku-prilaku pasukan kolonial Belanda tidak senonoh terhadap para gadis-gadis minang, mencoreng arang di kening.
Hal ini diceritakan kembali oleh H. Amiruddin (88) tahun, merupakan anak dari Walinagari tiga zaman Syahbuddin Dt. Rang Kayo Hitam, Manggopoh beberapa waktu lalu.
H. Amiruddin menyakinkan, bahwa ia masih berusia lebih kurang 24 tahun dan menjadi pengajar sekolah guru B sejak tahun 1958 kala itu, mendengarkan cerita langsung Mandeh Siti di rumah Walinagari tahun 1962, diharapa beberapa tokoh pemuka Nagari Manggopoh saat itu.
“Masih teringat kala itu Mandeh Siti duduk dikursi, dirumah tua walinagari orang tuanya mencerita riwayat dan semangat perlawanan terhadap kolonial Belanda, suara cukup tegas penuh kharismatik sosok perempuan tangguh yang hebat,” kenangnya.
Amiruddin menyampaikan, perlawanan perjuangan Siti Manggopoh tidak lahir seketika, perjuangan itu itu telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, bisa bilang tahun juga. Karena melakukan perlawan itu juga mendapat masukan dan saran dari banyak tokoh-tokoh terkemuka di Manggopoh, termasuk juga tokoh tua-tua pesilat.
“Mandeh Siti dan 17 orang telah membekali diri dengan keahlian beladiri silat dari keluarga masing-masing. Karena kala itu orang berlatih silat itu bersifat keluarga antara mamak dan kemenakan, dan biasa dilakukan dilingkungan tempat tinggal masing-masing karena kedalam silat itu mudah,” ungkapnya.
Amiruddin lebih lanjut mengatakan, sehari sebelum menuju medan laga, mandeh siti dan beberapa orang berkumpul di surau tuo bersama-beberapa tokoh hebat melakukan pengujian diri terhadap masing-masing orang untuk menyakinkan, apakah rasa sudah mampu akan melawan paasukan kolonial Hindia Belanda tersebut.
“Ujian itu adalah mencabut pedang yang diadakan dalam Surau Tuo, bagi mereka yang mampu mencabut pedang guru, tidak diperkenan untuk ikut serta karena akan mendatangkan malapetaka. Ada beberapa orang yang gagal dan akhirnya tinggal hanya 17 orang,” ujar Amir menegaskan.

Amiruddin mengungkapkan tepat jam 12.00 mereka bergerak menuju markas kolonial Belanda dan setiba di dekat lokasi terjadi dialog pemilihan siapa yang masuk terlebih dahulu. Terpilih Mandeh Siti yang tugas pertama bagaimana mematikan lampu yang menyala dalam markas kolonial Hindia Belanda di Manggopoh dan selanjutnya terjadilah peristiwa heroik tersebut, Mandeh Siti yang didamping suaminya Rasyid Bagindo Magek dan pasukannya semua selamat, 53 orang pasukan kolonial Hindia Belanda tewas malam itu.
“Kemudian Mandeh Siti dan Suaminya melarikan diri dari ke beberapa daerah, karena pasukan kolonial Hindia Belanda melakukan pengeledah pencarian. Dan akhirnya tertangkap di Nagari Bawan, Mandeh Siti di tahan di Pariaman bersama anaknya yang meninggal di penjara, sementara suaminya ditahan diungsikan sampai ke Menado dan tak pernah kembali ke Manggopoh,” ujarnya.
Amiruddin juga mengharapkan semangat perjuangan Siti Manggopoh ini jangan sampai hilang dari generasi ke generasi terutama bagi generasi Manggopoh, karena perjuangan Mandeh Siti merupakan perjuangan harga diri, menjaga martabat bangsa agar tidak terlindas oleh kaum penjajah.
“Seharusnya nilai-nilai perjuangan Siti Manggopoh ini menjadi inspirasi dan semangat para generasi Manggopoh untuk menjadi yang terbaik dalam semangat memajukan daerah dan kebangkitan diri bawah generasi Manggopoh memiliki semangat patriotik memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ingatnya. (*)

