Jakarta, Semangatnews.com – Harga batu bara global kembali menunjukkan tren kenaikan signifikan pada pertengahan Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan energi yang melibatkan peran Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga batu bara dunia ditutup di level US$139,35 per ton pada 18 Maret 2026, menguat sekitar 3,41 persen dibanding hari sebelumnya.
Lonjakan ini memperpanjang tren positif yang telah berlangsung sejak awal Maret, di mana harga batu bara terus menguat di tengah ketidakpastian pasar energi global.
Salah satu faktor yang turut mendorong kenaikan harga adalah kebijakan energi yang didorong oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali memberikan sentimen positif terhadap industri batu bara.
Kebijakan tersebut dinilai memberi harapan bagi pelaku industri bahwa permintaan batu bara akan tetap kuat di tengah transisi energi global.
Selain itu, konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah juga turut memperkuat harga komoditas energi, termasuk batu bara.
Gangguan pasokan energi global membuat banyak negara mulai mencari alternatif sumber energi yang lebih stabil, salah satunya batu bara.
Kondisi ini diperkuat dengan melonjaknya harga gas alam yang membuat pembangkit listrik di sejumlah negara beralih ke batu bara sebagai opsi yang lebih ekonomis.
Di Asia, negara seperti Jepang dan Korea Selatan mulai mempertimbangkan kembali penggunaan batu bara untuk menjaga stabilitas pasokan listrik mereka.
Tren ini memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan batu bara di pasar internasional.
Para analis memperkirakan, selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan kebijakan energi belum stabil, harga batu bara berpotensi tetap berada di level tinggi.(*)

