Jakarta, Semangatnews.com – Media Iran melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memulai serangan terhadap infrastruktur energi Iran dalam eskalasi konflik yang tengah berlangsung antara kedua pihak. Laporan tersebut menyebutkan bahwa beberapa fasilitas gas strategis serta jaringan pipa energi menjadi target serangan udara yang meningkat dalam beberapa hari terakhir, menyulut kekhawatiran lebih luas di kawasan.
Menurut media Iran, fasilitas gas di wilayah Isfahan dan Khorramshahr serta segmen utama pipa gas yang memasok energi domestik dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Sumber media menyatakan serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS menyatakan jeda terbatas terhadap serangan lanjutan pada fasilitas energi.
Laporan tersebut memicu reaksi keras di kalangan pejabat Iran dan media negara, yang menggambarkan aksi militer ini sebagai eskalasi berbahaya terhadap rakyat Iran dan stabilitas kawasan. Ketegangan telah meningkat sejak awal konflik yang meletus beberapa pekan lalu dan kini dinilai memasuki fase yang lebih luas.
Pernyataan media Iran datang di tengah pernyataan Presiden AS yang sebelumnya mengumumkan penundaan sementara terhadap serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari sebagai bagian dari upaya diplomatik yang disebut “produktif”, yang oleh pihak Iran sendiri dibantah.
Namun, laporan media Iran menyatakan bahwa serangan tersebut tetap berlangsung meskipun ada pengumuman jeda, menunjukkan adanya perbedaan pendapat di antara sekutu mengenai strategi militer yang harus diambil. AS dilaporkan tetap menargetkan fasilitas militer lain, sementara Israel juga terlibat dalam operasi militer di wilayah Iran.
Beberapa analis menyebut target infrastruktur energi sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk melemahkan kemampuan ekonomi dan militer lawan, namun langkah ini dikhawatirkan dapat menciptakan dampak serius terhadap pasokan energi global serta kehidupan masyarakat sipil.
Dampak dari serangan ini tampaknya sudah mulai terlihat di pasar minyak dunia, di mana harga minyak sempat anjlok kemudian kembali bergejolak menyusul berita eskalasi terbaru, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Iran sendiri sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika fasilitas energi mereka menjadi target, negara itu akan menanggapi dengan serangan balik terhadap berbagai target militer dan ekonomi yang berkaitan dengan AS dan Israel, memperkuat retorika perang yang semakin memanas.
Reaksi internasional terhadap klaim media Iran beragam; beberapa negara menyerukan de‑eskalasi dan dialog diplomatik, sementara lainnya menyerukan perlindungan warga sipil dan mekanisme penghentian pertumpahan darah yang terjadi.
Di kawasan regional, negara‑negara tetangga yang bergantung pada jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz juga mengikuti perkembangan dengan cermat karena risiko konflik yang lebih besar dapat mengganggu keseluruhan aliran energi global.
Sementara itu, masyarakat sipil di Iran dilaporkan mulai merasakan dampak dari gangguan layanan energi dan kekhawatiran tentang masa depan jika konflik terus meningkat, dengan banyak yang mengkhawatirkan potensi rusaknya fasilitas vital dalam jangka panjang.(*)

