Jakarta, Semangatnews.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan setelah salah satu negara tetangga Indonesia mencatat harga bensin menembus Rp43.300 per liter. Kenaikan ini mencerminkan tekanan global yang semakin kuat terhadap sektor energi.
Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir menjadi pemicu utama naiknya harga BBM di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara.
Kondisi geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah, turut memperparah situasi. Ketegangan di kawasan penghasil minyak membuat pasokan energi menjadi tidak stabil dan mendorong harga terus merangkak naik.
Di sisi lain, negara dengan sistem pasar bebas cenderung lebih cepat merasakan dampak lonjakan harga minyak. Harga BBM di negara-negara tersebut mengikuti mekanisme pasar tanpa banyak intervensi subsidi pemerintah.
Sebaliknya, Indonesia masih mampu menjaga harga BBM relatif stabil berkat kebijakan subsidi. Hal ini membuat harga BBM di dalam negeri jauh lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain.
Data global menunjukkan bahwa rata-rata harga bensin dunia saat ini berada di kisaran US$1,35 per liter atau sekitar Rp22 ribuan. Namun, perbedaan kebijakan tiap negara membuat harga bisa melonjak jauh di atas angka tersebut.
Di kawasan ASEAN sendiri, tren kenaikan harga BBM juga mulai terasa. Singapura misalnya, mencatat harga bensin yang terus meningkat hingga menyentuh angka puluhan ribu rupiah per liter.
Kenaikan harga BBM berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling terdampak, yang kemudian berimbas pada harga barang dan jasa.
Ekonom menilai kondisi ini berpotensi memicu inflasi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi akan merasakan tekanan paling besar.
Perbedaan harga BBM antarnegara pada dasarnya dipengaruhi oleh pajak dan subsidi. Negara maju umumnya memiliki harga lebih tinggi karena pajak energi yang besar, sementara negara produsen minyak cenderung memberikan subsidi.
Dengan situasi global yang masih belum stabil, harga BBM diperkirakan akan tetap fluktuatif. Pemerintah di berbagai negara pun dituntut untuk mengambil langkah strategis guna melindungi daya beli masyarakat.(*)

