Jakarta, Semangatnews.com – Di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, Iran mengambil langkah tak terduga dengan mengizinkan kapal tanker Irak melintasi Selat Hormuz.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh otoritas Iran sebagai bagian dari kebijakan selektif terhadap lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Irak termasuk negara yang dibebaskan dari pembatasan pelayaran yang diberlakukan Teheran.
Ia menyebut kebijakan ini sebagai bentuk perlakuan khusus terhadap negara yang dianggap tidak memusuhi Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Zolfaghari juga menekankan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi negara-negara yang dikategorikan sebagai lawan atau musuh Iran.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Iran dalam mengontrol jalur laut vital tersebut tanpa sepenuhnya menutup akses global.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur paling penting di dunia, karena menjadi pintu utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke berbagai negara.
Sejak konflik meningkat pada awal Maret 2026, aktivitas pelayaran di selat tersebut sempat dibatasi secara ketat oleh Iran.
Pembatasan ini berdampak besar terhadap perdagangan global, termasuk melonjaknya harga minyak dan terganggunya rantai pasok energi dunia.
Meski demikian, Iran mulai memberikan pengecualian kepada sejumlah negara, termasuk Irak, Filipina, hingga beberapa negara Asia lainnya.
Kebijakan ini dinilai sebagai upaya Iran menjaga hubungan strategis sekaligus mempertahankan pengaruhnya di jalur perdagangan energi global.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis dan berisiko tinggi, mengingat konflik militer di kawasan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dengan dibukanya akses terbatas ini, dunia kini menanti apakah langkah Iran akan meredakan ketegangan atau justru menjadi bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar.(*)

