Jakarta, Semangatnews.com – Prospek harga emas global menunjukkan tren yang semakin positif di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Para analis memproyeksikan logam mulia ini masih memiliki ruang penguatan signifikan hingga akhir tahun 2026.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia berpotensi melonjak hingga menyentuh level US$6.000 per troy ons. Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya permintaan terhadap aset safe haven.
Selain itu, pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas. Kondisi ini membuat emas semakin menarik bagi investor global.
Minat bank sentral terhadap emas juga terus meningkat. Banyak negara memperkuat cadangan emas mereka sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Dalam jangka pendek, harga emas bahkan diperkirakan bisa kembali ke level US$5.000 per troy ons. Momentum ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, harga emas di dalam negeri juga diproyeksikan mengalami penguatan. Emas Antam diperkirakan berpeluang mendekati angka Rp 3.000.000 per gram dalam waktu dekat.
Namun, para analis mengingatkan bahwa harga emas tetap berpotensi mengalami fluktuasi. Faktor global seperti harga energi dan kebijakan suku bunga masih menjadi penentu utama.
Dalam skenario negatif, harga emas bisa terkoreksi hingga ke level US$3.800 per troy ons. Hal ini bisa terjadi jika terjadi gangguan besar pada pasokan energi global.
Meski demikian, tren jangka menengah hingga panjang masih menunjukkan arah bullish. Investor dinilai tetap menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai yang aman.
Kondisi ini membuat aktivitas pembelian emas semakin meningkat. Baik investor ritel maupun institusi mulai kembali melirik emas sebagai aset strategis.
Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, harga emas diperkirakan akan terus bergerak dinamis. Namun arah utamanya masih condong ke penguatan hingga akhir 2026.(*)

