Jakarta, Semangatnews.com – Fenomena pergerakan mata uang di kawasan Asia kembali menjadi sorotan setelah sejumlah negara mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Di tengah tren tersebut, rupiah justru mengalami tekanan dan bergerak berlawanan arah.
Data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah terus melemah hingga mendekati level psikologis Rp17.200 per dolar AS. Bahkan, pada perdagangan terbaru, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.180 per dolar AS, menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah.
Kondisi ini kontras dengan beberapa mata uang Asia lainnya yang mulai bangkit. Won Korea Selatan dan rupee India misalnya, menunjukkan penguatan dalam periode yang sama.
Perbedaan arah ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai ketahanan rupiah di tengah perubahan dinamika global. Banyak negara Asia tampak mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Fenomena “dedolarisasi” atau pengurangan penggunaan dolar dalam transaksi internasional disebut menjadi salah satu faktor utama penguatan mata uang Asia. Langkah ini dinilai mampu memperkuat posisi mata uang domestik masing-masing negara.
Namun di Indonesia, tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor global dan domestik. Ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memberi dampak signifikan terhadap pergerakan nilai tukar.
Selain itu, dolar AS masih dianggap sebagai aset aman atau safe haven, sehingga permintaan terhadap dolar tetap tinggi di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Di sisi domestik, faktor seperti arus modal keluar dan kebutuhan impor yang tinggi juga ikut menekan rupiah. Kondisi ini membuat mata uang Garuda sulit menguat meski tren regional mulai membaik.
Bank Indonesia sendiri telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Upaya tersebut dilakukan melalui pasar valuta asing hingga kebijakan moneter lainnya.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka pendek jika kondisi global belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Dengan situasi ini, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama di tengah perubahan peta kekuatan mata uang di kawasan Asia.(*)

