Jakarta, Semangatnews.com – Kenaikan harga plastik di Indonesia mulai menimbulkan efek berantai pada sektor pangan. Biaya kemasan yang meningkat membuat harga beras dan gula ikut terdorong naik di tingkat pelaku usaha.
Badan Pangan Nasional atau Bapanas mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik berdampak langsung terhadap struktur biaya distribusi pangan. Plastik yang digunakan sebagai kemasan menjadi komponen penting dalam rantai pasok beras dan gula.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut bahwa pelaku usaha mulai merasakan tekanan biaya akibat kenaikan tersebut. Hal ini diperoleh dari hasil komunikasi langsung dengan para pelaku industri pangan.
Dari hasil perhitungan, kenaikan biaya kemasan menyebabkan harga beras naik sekitar Rp350 per kilogram. Sementara itu, harga gula ikut terdorong sekitar Rp150 per kilogram akibat faktor yang sama.
Meski demikian, pemerintah menilai kenaikan harga pangan tersebut masih dalam batas wajar. Pergerakan harga belum mencapai lonjakan signifikan yang bisa mengganggu stabilitas pasar.
Data terbaru menunjukkan harga beras medium secara nasional masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Kenaikan yang terjadi pun relatif tipis di berbagai wilayah distribusi.
Sementara itu, harga gula nasional tercatat mengalami kenaikan sekitar 2 persen dalam sebulan terakhir. Namun, di beberapa wilayah seperti Indonesia Timur justru terjadi penurunan harga.
Kenaikan harga plastik sendiri tidak lepas dari faktor global, terutama gangguan pasokan bahan baku yang berasal dari turunan minyak bumi. Gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak turut memperburuk kondisi ini.
Kondisi tersebut membuat industri kemasan menghadapi tekanan biaya produksi, yang kemudian diteruskan ke sektor pangan sebagai pengguna utama.
Pemerintah pun bergerak cepat dengan melakukan koordinasi lintas kementerian untuk menjaga stabilitas pasokan plastik. Langkah ini diharapkan mampu menahan dampak lanjutan terhadap harga pangan.
Ke depan, penguatan pasokan bahan baku dan efisiensi distribusi menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus oleh kenaikan biaya produksi.(*)

