Jakarta, Semangatnews.com – Dunia kesehatan global diguncang kabar munculnya wabah hantavirus di sebuah kapal pesiar mewah yang tengah berlayar di kawasan Atlantik. Insiden ini menyebabkan tiga penumpang meninggal dunia dan sejumlah lainnya jatuh sakit.
Kapal ekspedisi bernama MV Hondius itu dilaporkan sedang menjalani perjalanan panjang dari Amerika Selatan menuju wilayah Afrika ketika kasus mulai terdeteksi. Situasi berubah darurat setelah beberapa penumpang mengalami gejala serius.
Korban pertama adalah seorang pria lanjut usia asal Belanda yang meninggal setelah menunjukkan gejala parah. Tak lama berselang, istrinya juga meninggal dunia setelah sempat dievakuasi untuk perawatan medis.
Korban ketiga merupakan warga negara Jerman yang meninggal di atas kapal, memperburuk situasi yang sudah genting. Selain itu, beberapa penumpang lain dilaporkan dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan intensif.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) langsung turun tangan untuk menyelidiki penyebab wabah tersebut. Hingga kini, beberapa kasus telah dikonfirmasi sebagai hantavirus, sementara lainnya masih dalam tahap pemeriksaan.
Kapal tersebut sempat ditolak untuk bersandar di sejumlah pelabuhan, termasuk di Cape Verde, karena kekhawatiran penyebaran penyakit. Hal ini membuat ratusan penumpang dan kru harus tetap berada di atas kapal dalam kondisi terbatas.
Hantavirus sendiri dikenal sebagai penyakit langka namun berbahaya yang umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan terjadi melalui kontak dengan kotoran, urine, atau air liur hewan tersebut.
Dalam kasus ini, para ahli menduga infeksi awal kemungkinan terjadi sebelum kapal berlayar, saat penumpang masih berada di wilayah Amerika Selatan. Namun, ada indikasi penularan antar manusia yang sedang diteliti lebih lanjut.
Gejala penyakit ini bisa berkembang cepat, mulai dari demam dan nyeri otot hingga gangguan pernapasan serius yang berpotensi fatal. Tingkat kematian pada beberapa kasus bahkan mencapai puluhan persen.
Pihak operator kapal kini bekerja sama dengan otoritas kesehatan internasional untuk melakukan evakuasi medis dan pelacakan kontak guna mencegah penyebaran lebih luas.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa wabah penyakit bisa muncul di mana saja, termasuk di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, yang berpotensi mempercepat penyebaran infeksi.(*)

