Jakarta, Semangatnews.com – Bank Indonesia memastikan akan bergerak penuh selama 24 jam untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan mengalami tekanan hebat akibat gejolak global. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan seluruh instrumen moneter dikerahkan demi menahan pelemahan mata uang Garuda.
Langkah “all out” itu dilakukan melalui intervensi besar-besaran di pasar domestik maupun luar negeri. Bank Indonesia bahkan aktif melakukan operasi pasar di pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, London, hingga New York untuk menjaga kestabilan rupiah.
Perry Warjiyo menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal, mulai dari konflik Timur Tengah, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang.
Rupiah sebelumnya sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.445 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dan meningkatkan tekanan terhadap sektor keuangan domestik.
Untuk meredam gejolak, BI memperkuat intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Strategi tersebut dilakukan secara simultan agar volatilitas rupiah tetap terkendali.
Selain itu, BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS di dalam negeri. Ambang batas pembelian valas tanpa dokumen underlying kini dipangkas menjadi US$25 ribu per bulan guna menekan aksi spekulasi di pasar valuta asing.
Meski rupiah mengalami tekanan, Perry menilai nilai tukar saat ini sebenarnya masih undervalued dibanding fundamental ekonomi Indonesia. Ia optimistis rupiah memiliki peluang menguat kembali apabila situasi global mulai mereda.
Bank Indonesia juga memastikan cadangan devisa nasional masih cukup kuat untuk menopang stabilitas pasar. Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai sekitar US$148,2 miliar dan dinilai memadai untuk menghadapi tekanan jangka pendek.
Pengamat ekonomi menilai langkah agresif BI penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Stabilitas rupiah dianggap sangat krusial karena berdampak langsung pada inflasi, harga impor, dan daya beli masyarakat.
Di tengah tekanan global, arus dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI masih tercatat positif. Dana masuk melalui instrumen tersebut mencapai Rp78,1 triliun dan membantu menyeimbangkan tekanan di pasar saham maupun obligasi pemerintah.
Pelaku pasar kini menanti efektivitas langkah “all out” BI dalam beberapa pekan mendatang. Jika tensi geopolitik global mereda dan aliran modal asing kembali masuk, rupiah diperkirakan memiliki peluang bangkit lebih kuat pada semester kedua tahun ini.(*)

