IHSG Mendadak Rontok 2,5 Persen, Sentimen Global dan Aksi Asing Jadi Pemicu

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengejutkan pelaku pasar setelah tiba-tiba anjlok hingga 2,5 persen pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Pelemahan tajam tersebut membuat pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan besar di tengah ketidakpastian global.

Pada sesi perdagangan siang, IHSG tercatat bergerak di zona merah dengan tekanan jual yang terjadi hampir di seluruh sektor. Nilai transaksi pasar juga melonjak tajam seiring aksi jual investor asing dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Analis menilai gejolak global menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar saham Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz, membuat investor memilih keluar dari aset berisiko seperti saham emerging market.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik kawasan Teluk juga ikut memicu kekhawatiran pasar. Investor khawatir kenaikan harga energi akan mendorong inflasi global kembali meningkat dan mempersempit ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga.

Selain faktor eksternal, pelemahan IHSG juga dipengaruhi aksi profit taking pada sejumlah saham big caps yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Saham-saham konglomerasi dan perbankan besar dilaporkan menjadi penekan utama indeks sepanjang perdagangan.

Tekanan juga datang dari keluarnya dana asing dari pasar saham domestik. Investor global disebut mulai mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.

Pasar turut menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi membuat nilai dolar AS tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko. Kekhawatiran perlambatan ekonomi global juga menjadi sentimen negatif tambahan yang membuat tekanan jual di pasar saham semakin besar.

Beberapa analis pasar modal menilai pelemahan IHSG kali ini tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan. Situasi tersebut membuat volatilitas pasar meningkat dalam waktu singkat.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang pemulihan apabila tensi geopolitik mulai mereda dan bank sentral AS memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan. Harapan tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga optimisme investor jangka panjang.

Untuk sementara, investor diperkirakan masih akan mencermati perkembangan konflik global, pergerakan harga minyak, serta arah kebijakan The Fed sebelum kembali masuk agresif ke pasar saham Indonesia. Tekanan terhadap IHSG diprediksi masih akan berlanjut selama sentimen eksternal belum benar-benar stabil.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.