Baru Sebulan Melantai di Bursa, Saham WBSA Langsung Masuk Radar Pengawasan BEI

by -

Jakarta, Semangatnews.com – PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode saham WBSA kembali menjadi perhatian pelaku pasar modal setelah Bursa Efek Indonesia memasukkan saham tersebut ke dalam daftar High Shareholding Concentration atau HSC. Status itu diberikan karena mayoritas saham perusahaan disebut dikuasai oleh segelintir pihak.

WBSA sendiri baru resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 10 April 2026. Namun dalam waktu kurang dari satu bulan, saham perusahaan logistik tersebut sudah masuk kategori saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

Berdasarkan data BEI dan KSEI, tingkat konsentrasi kepemilikan saham WBSA mencapai 95,82 persen dari total saham dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat. Kondisi ini membuat ruang perdagangan saham publik menjadi relatif terbatas.

Sebelum masuk daftar HSC, saham WBSA sempat mencuri perhatian investor karena mengalami lonjakan harga sangat tinggi sejak IPO. Dalam beberapa pekan awal perdagangan, saham ini disebut sempat melesat lebih dari 600 persen.

Kenaikan harga yang terlalu cepat membuat Bursa beberapa kali melakukan suspensi sementara terhadap perdagangan saham WBSA. Langkah itu dilakukan untuk menjaga perdagangan tetap wajar dan melindungi investor ritel dari volatilitas ekstrem.

BEI menegaskan masuknya saham dalam daftar HSC tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran aturan pasar modal. Pengumuman tersebut disebut hanya bentuk keterbukaan informasi kepada investor mengenai struktur kepemilikan saham emiten.

Pjs Direktur Utama BEI menyebut kondisi HSC bisa terbentuk akibat aksi pembelian besar-besaran oleh kelompok investor tertentu setelah saham IPO diperdagangkan di pasar reguler. Fenomena ini dinilai masih kerap terjadi pada saham dengan free float terbatas.

Saat IPO, WBSA melepas sekitar 1,8 miliar saham ke publik dengan porsi free float sekitar 20,75 persen. Namun dalam perjalanannya, sebagian besar saham tersebut kembali terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu.

Fenomena saham HSC sendiri belakangan menjadi perhatian besar di pasar modal Indonesia. Sebelumnya, sejumlah saham besar seperti BREN dan DSSA juga sempat mendapat sorotan serupa hingga berdampak pada evaluasi indeks global MSCI.

Analis pasar menilai investor perlu lebih berhati-hati terhadap saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi. Saham seperti ini dinilai lebih rentan mengalami pergerakan harga ekstrem akibat likuiditas yang terbatas di pasar.

Meski demikian, WBSA masih menjadi salah satu saham yang aktif diperbincangkan investor ritel karena volatilitasnya yang tinggi sejak IPO. Pelaku pasar kini menunggu bagaimana langkah perusahaan dan Bursa dalam menjaga stabilitas perdagangan saham tersebut ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.