Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan geopolitik yang terus meningkat membuat dunia dinilai mulai kehilangan konsensus global yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan internasional. Berbagai negara kini semakin sering mengambil langkah sepihak, mulai dari sanksi ekonomi hingga penolakan terhadap kerja sama multilateral.
Fenomena tersebut terlihat jelas dari meningkatnya fragmentasi dalam berbagai forum internasional. Konflik geopolitik, perang dagang, hingga perbedaan kepentingan ekonomi membuat banyak negara sulit mencapai kesepakatan bersama.
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang banyak disorot setelah menarik diri dari puluhan organisasi internasional dan sejumlah kesepakatan global. Langkah itu memicu kekhawatiran terhadap melemahnya sistem multilateralisme dunia.
Di sisi lain, berbagai negara berkembang mulai mencari jalur alternatif untuk menjaga kepentingan nasional mereka. Indonesia misalnya, disebut terus berupaya menjaga posisi netral di tengah rivalitas kekuatan besar dunia.
Dalam isu konflik Ukraina, Indonesia memilih abstain dalam voting Majelis Umum PBB karena menilai proses pembahasan resolusi belum cukup inklusif. Sikap tersebut menunjukkan perubahan dinamika diplomasi global yang semakin kompleks.
Ketegangan juga terlihat dalam isu Timur Tengah. Gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global.
Selain konflik politik, perbedaan pandangan mengenai perubahan iklim juga memperlihatkan retaknya konsensus internasional. Meski Amerika Serikat sempat menarik diri dari sejumlah komitmen global, negara-negara lain tetap mencoba melanjutkan kerja sama iklim internasional.
Para pengamat menilai dunia saat ini sedang bergerak menuju era multipolar, di mana tidak ada lagi satu kekuatan dominan yang mampu mengendalikan arah global sepenuhnya. Kondisi tersebut membuat hubungan internasional menjadi lebih cair namun juga lebih rentan konflik.
Sanksi ekonomi yang semakin sering digunakan antarnegara juga dianggap memperparah ketidakpastian global. Kebijakan tersebut bukan hanya memengaruhi negara sasaran, tetapi turut mengguncang rantai pasok dan ekonomi dunia secara luas.
Di tengah situasi tersebut, banyak negara mulai memperkuat ketahanan domestik masing-masing, mulai dari sektor energi, pangan, hingga pertahanan. Strategi itu dinilai penting menghadapi kemungkinan krisis global yang lebih besar di masa depan.
Meski konsensus global mulai retak, sejumlah pihak tetap berharap diplomasi internasional bisa kembali diperkuat. Kerja sama lintas negara dianggap tetap menjadi kunci untuk menghadapi tantangan dunia seperti perang, krisis ekonomi, dan perubahan iklim.(*)

