Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa pagi setelah dolar Amerika Serikat menembus level Rp17.706. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif mata uang Garuda yang dalam beberapa pekan terakhir terus dibayangi sentimen global dan kekhawatiran pasar domestik.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah melemah sekitar 38 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Indonesia terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap kondisi ekonomi dunia.
Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta perkembangan ketegangan geopolitik internasional. Kondisi tersebut mendorong investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.
Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan rupiah sebenarnya memiliki peluang menguat terbatas setelah kekhawatiran global mulai mereda. Namun sentimen domestik dan antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia masih menjadi faktor penahan penguatan.
Bank Indonesia sebelumnya juga telah memberikan perhatian serius terhadap pelemahan rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut posisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalue.
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Ia menilai stabilitas ekonomi Indonesia masih cukup baik meskipun pasar keuangan global sedang bergejolak.
Pelemahan rupiah kali ini juga membuat pasar kembali berspekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan BI dalam waktu dekat. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi opsi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan pasar.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS terpantau bervariasi. Beberapa mata uang seperti yuan China dan ringgit Malaysia berhasil menguat tipis, sementara won Korea Selatan dan yen Jepang justru ikut mengalami pelemahan.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Investor global disebut masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk ke aset negara berkembang.
Sejumlah ekonom memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Faktor geopolitik global, harga minyak dunia, serta kebijakan bank sentral Amerika Serikat menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang.
Meski menghadapi tekanan berat, pemerintah dan Bank Indonesia diyakini akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar. Pelaku ekonomi berharap kondisi global segera membaik agar rupiah dapat kembali bergerak stabil dan tidak menimbulkan dampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.(*)

