Rupiah Berbalik Melemah, Harga Minyak dan Dolar AS Jadi Biang Kerok

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali berbalik arah pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya sempat menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan datang dari penguatan dolar AS di pasar global serta lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik yang terus memanas.

Pada penutupan perdagangan sore, rupiah tercatat melemah tipis setelah sempat bergerak di zona hijau pada sesi pagi. Pelaku pasar disebut mulai kembali memburu dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Konflik Timur Tengah membuat pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi global.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga ikut membebani pergerakan mata uang Garuda. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional dan arah kebijakan ekonomi pemerintah membuat investor cenderung berhati-hati.

Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut diambil untuk menahan tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga stabilitas inflasi nasional.

Meski demikian, pasar masih melihat tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Permintaan dolar AS dinilai masih tinggi karena kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen perusahaan asing.

Analis menilai penguatan dolar AS juga dipicu ekspektasi kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat. Investor global saat ini masih memilih menempatkan dana di instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih aman.

Tekanan terhadap rupiah belakangan semakin terasa setelah mata uang Indonesia sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di atas Rp17.700 per dolar AS. Kondisi itu memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis kondisi ekonomi nasional masih terkendali. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah mengalami tekanan besar.

Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan suku bunga diperkirakan masih akan menjadi instrumen utama bank sentral.

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih sangat dipengaruhi situasi geopolitik global dan arus modal asing. Selama ketidakpastian global belum mereda, volatilitas rupiah diprediksi masih akan terus terjadi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.