Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan baru di kawasan Timur Tengah langsung memicu kepanikan pasar energi global.
Minyak mentah Brent dilaporkan naik hingga mendekati level US$97,56 per barel setelah muncul laporan serangan militer terbaru. Kenaikan tersebut terjadi akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap harinya sehingga setiap konflik di wilayah itu langsung berdampak besar terhadap harga energi internasional.
Pasar global langsung merespons negatif meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Investor khawatir konflik akan berkembang lebih luas dan menghambat distribusi minyak serta gas alam cair ke berbagai negara.
Reuters melaporkan harga minyak global sempat melonjak lebih dari 3 persen setelah serangan terbaru memperbesar ketidakpastian terkait proses perdamaian antara Washington dan Teheran.
Selain ancaman perang, pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Iran sebelumnya disebut memperketat akses kapal non-Iran di kawasan tersebut sejak konflik memanas beberapa bulan terakhir.
Lonjakan harga minyak dikhawatirkan akan berdampak pada inflasi global. Negara-negara pengimpor energi diperkirakan menghadapi tekanan kenaikan biaya bahan bakar, logistik, hingga harga pangan jika konflik terus berlangsung.
Di Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi harga avtur dan biaya transportasi. Sejumlah pengamat sebelumnya memperingatkan tiket pesawat bisa mengalami kenaikan signifikan akibat gejolak energi global.
Analis energi menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Sedikit saja gangguan terhadap distribusi minyak dari Teluk Persia dapat memicu lonjakan harga dalam waktu cepat.
Meski negosiasi damai antara AS dan Iran masih berlangsung, pasar belum sepenuhnya yakin konflik dapat segera mereda. Ketidakjelasan hasil pembicaraan membuat volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Kenaikan harga minyak kali ini kembali menunjukkan betapa besarnya pengaruh Timur Tengah terhadap ekonomi dunia. Ketika Selat Hormuz terganggu, dampaknya langsung terasa pada pasar energi, inflasi, hingga biaya hidup masyarakat di berbagai negara.(*)

