Jakarta, Semangatnews.com – Pelatih Como 1907, Cesc Fàbregas, mengibaratkan klub yang ia tangani saat ini seperti sebuah universitas tempat dirinya terus belajar dan berkembang sebagai pelatih. Pernyataan itu muncul setelah Como mencetak sejarah dengan lolos ke Liga Champions musim 2026-2027.
Fabregas mengaku merasa nyaman bekerja di Como karena mendapatkan dukungan penuh dari manajemen, suporter, dan seluruh elemen klub. Ia menyebut suasana tersebut membuatnya mampu membangun proyek jangka panjang tanpa tekanan berlebihan seperti yang sering terjadi di klub besar Eropa.
Menurut Fabregas, sepak bola modern saat ini minim kesabaran terhadap pelatih. Banyak juru taktik diganti hanya dalam hitungan pertandingan ketika hasil tim tidak sesuai harapan. Karena itu, ia merasa lingkungan di Como sangat berbeda dan mendukung proses perkembangan tim secara bertahap.
Ucapan Fabregas kemudian dikaitkan dengan sosok Arsène Wenger yang pernah menjadi mentornya saat bermain di Arsenal. Wenger dikenal membangun proyek jangka panjang bersama Arsenal selama lebih dari dua dekade dengan mengembangkan pemain muda dan filosofi permainan menyerang.
Fabregas sendiri merupakan salah satu pemain muda yang bersinar di bawah asuhan Wenger. Saat masih berusia 16 tahun, ia direkrut Arsenal dari akademi Barcelona dan berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik Eropa bersama klub London tersebut.
Kini, filosofi serupa mulai diterapkan Fabregas di Como. Ia membangun tim dengan identitas permainan agresif, penguasaan bola, dan keberanian memainkan pemain muda dalam kompetisi level tertinggi Italia.
Hasilnya mulai terlihat dalam dua musim terakhir. Setelah promosi ke Serie A, Como mampu tampil mengejutkan dengan menembus empat besar klasemen dan memastikan tiket Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Prestasi tersebut dianggap luar biasa mengingat Como masih bermain di Serie D pada 2019 lalu. Transformasi klub berlangsung cepat sejak diambil alih pemilik baru dan dipadukan dengan visi sepak bola modern ala Fabregas.
Fabregas menegaskan proyek Como belum mencapai puncaknya. Ia merasa timnya bahkan belum mencapai setengah dari potensi yang sebenarnya bisa diraih jika terus berkembang secara konsisten dalam beberapa tahun mendatang.
Meski sempat dikaitkan dengan sejumlah klub besar Eropa seperti Arsenal, Chelsea, dan Inter Milan, Fabregas memilih bertahan bersama Como. Ia merasa masih banyak hal yang ingin dibangun bersama klub tersebut.
Dengan filosofi jangka panjang dan dukungan penuh manajemen, banyak pihak mulai melihat Como sebagai proyek ambisius baru di sepak bola Italia. Fabregas pun dinilai berpeluang menciptakan era emas klub layaknya Wenger bersama Arsenal di masa lalu.(*)

