Harga Minyak Dunia Terancam Meledak, Bisa Sentuh 150 Dollar AS per Barel

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Kekhawatiran terhadap krisis energi global kembali meningkat setelah harga minyak dunia diprediksi bisa menembus 150 dollar AS per barel. Ancaman tersebut dipicu memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia yang dilalui jutaan barel minyak setiap hari. Gangguan di wilayah tersebut dinilai dapat langsung memengaruhi pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah internasional.

Sejumlah analis menilai pasar global saat ini masih meremehkan potensi dampak krisis tersebut. Padahal, jika konflik semakin meluas atau jalur distribusi terganggu, harga minyak bisa naik sangat tajam dalam waktu singkat.

Center of Reform on Economics (CORE) memperkirakan harga minyak Brent berpotensi berada di kisaran 100 hingga 150 dollar AS per barel jika Selat Hormuz benar-benar mengalami gangguan serius. Kondisi itu disebut akan memberikan tekanan besar terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Kenaikan harga minyak diperkirakan berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak atau BBM di berbagai negara. Selain itu, inflasi global juga berpotensi meningkat akibat biaya energi dan logistik yang ikut melonjak.

International Energy Agency (IEA) bahkan memperingatkan dunia bisa menghadapi masa kritis energi dalam beberapa bulan mendatang jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda. Pasokan minyak global dinilai mulai menghadapi tekanan besar.

Saat ini harga minyak Brent disebut sudah bergerak di atas 100 dollar AS per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik memanas yang berada di kisaran 70 dollar AS.

Lonjakan harga energi juga diprediksi memengaruhi nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika harga minyak naik, kebutuhan impor energi meningkat dan dapat menekan kondisi fiskal pemerintah.

Bagi Indonesia, situasi tersebut menjadi tantangan serius karena kebutuhan impor minyak masih cukup besar. Pemerintah berpotensi menghadapi tekanan tambahan pada subsidi energi jika harga minyak dunia terus meroket.

Selain berdampak pada ekonomi, ketidakstabilan harga minyak juga dapat memengaruhi pasar keuangan global. Investor biasanya akan beralih ke aset aman seperti emas ketika konflik geopolitik meningkat.

Banyak pihak kini berharap ketegangan di Timur Tengah dapat segera mereda agar pasar energi global kembali stabil. Jika tidak, lonjakan harga minyak berpotensi menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang 2026.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.