Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menuduh Washington melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang telah disepakati pada April lalu. Tuduhan tersebut muncul menyusul serangan militer AS terhadap fasilitas radar dan pengawasan pesisir Iran di wilayah selatan negara itu.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan yang menyasar fasilitas di Sirik dan Pulau Qeshm sebagai tindakan agresi yang secara langsung melanggar kedaulatan nasional Republik Islam Iran. Pemerintah Iran menegaskan fasilitas tersebut memiliki fungsi utama untuk menjaga keamanan perbatasan dan jalur pelayaran internasional.
Dalam pernyataan resminya, Teheran menggambarkan serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April 2026. Iran juga menuduh Amerika Serikat tidak menunjukkan niat untuk menurunkan ketegangan di kawasan.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan operasi militer itu dilakukan sebagai langkah pertahanan diri. Menurut Washington, serangan dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh empat drone Iran yang terbang menuju kawasan strategis Selat Hormuz.
Militer AS mengklaim drone-drone tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim internasional yang melintasi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia tersebut.
Setelah menjatuhkan drone-drone tersebut, pasukan AS melancarkan serangan terhadap instalasi radar pengawasan pantai Iran yang berada di Kota Goruk dan Pulau Qeshm. Washington menyebut langkah itu bertujuan mencegah ancaman lanjutan terhadap keamanan pelayaran internasional.
Iran menolak penjelasan tersebut dan menilai tindakan AS merupakan bagian dari pola kebijakan yang selama ini dianggap provokatif terhadap Teheran. Pemerintah Iran menegaskan pihaknya memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri sesuai hukum internasional.
Situasi semakin memanas setelah Iran menyatakan telah memberikan respons yang disebut “waspada, tegas, dan proporsional” terhadap serangan tersebut. Pernyataan itu memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
Konflik terbaru ini terjadi saat berbagai upaya diplomatik masih dilakukan untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Namun serangkaian insiden militer membuat prospek perdamaian kembali dipertanyakan.
Pengamat menilai Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam perseteruan kedua negara. Jalur tersebut dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Dengan saling tuding yang terus berlanjut, komunitas internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan situasi di kawasan. Banyak pihak berharap kedua negara dapat menahan diri guna mencegah konflik yang lebih luas dan mengancam keamanan regional.(*)

