Jakarta, Semangatnews.com – Gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 membuka perhatian baru terhadap keberadaan Sesar Sausu, sebuah patahan aktif yang selama ini tidak sepopuler Sesar Palu-Koro. Meski demikian, sesar tersebut terbukti mampu menghasilkan gempa kuat yang merusak.
Guncangan terjadi pada siang hari dan dirasakan luas di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Warga di Palu, Sigi, Parigi Moutong hingga daerah sekitarnya melaporkan getaran yang berlangsung cukup lama dan menyebabkan kepanikan.
Menurut BMKG, gempa ini termasuk gempa kerak dangkal yang berasal dari aktivitas tektonik lokal. Kedalaman yang relatif dangkal membuat energi gempa lebih mudah mencapai permukaan sehingga dampaknya terasa lebih kuat oleh masyarakat.
Para pakar menjelaskan bahwa Sesar Sausu berada di kawasan Parigi Moutong dan merupakan bagian dari jaringan struktur geologi aktif yang membentuk karakter tektonik Sulawesi. Aktivitas sesar tersebut telah lama teridentifikasi, namun belum banyak dikenal masyarakat luas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa mekanisme gempa kali ini berbeda dari sebagian besar aktivitas yang sering dikaitkan dengan Sesar Palu-Koro. Pergerakan turun pada patahan menjadi karakter utama yang terdeteksi dalam kejadian tersebut.
Meski berkekuatan besar, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kepastian tersebut memberikan ketenangan bagi masyarakat pesisir yang sempat khawatir mengingat sejarah tsunami yang pernah melanda wilayah Palu.
Di lapangan, tim penanggulangan bencana segera melakukan asesmen terhadap dampak yang ditimbulkan. Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, sementara warga terdampak mulai mendapatkan bantuan darurat dari pemerintah daerah.
Gempa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi para peneliti kebencanaan. Mereka menilai masih banyak sesar aktif di Indonesia yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat sehingga edukasi mengenai ancaman geologi perlu terus diperluas.
Selain faktor geologi, kesiapan masyarakat menghadapi bencana menjadi perhatian penting. Pengalaman menunjukkan bahwa pengetahuan tentang jalur evakuasi dan prosedur keselamatan dapat membantu mengurangi risiko korban saat gempa terjadi.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik pascagempa. Data sementara menunjukkan adanya sejumlah gempa susulan yang merupakan bagian dari proses pelepasan energi setelah gempa utama.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Dengan memahami sumber-sumber gempa seperti Sesar Sausu, diharapkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dapat semakin meningkat sehingga dampak bencana di masa depan dapat diminimalkan.(*)

