semangatnews.com, Bukittinggi – Pelaksanaan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat yang telah dilakukan Dinas Kebudayaan bersama Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Nurna Eva Karmila ini sesuatu yang baik dalam meningkatkan peran dan fungi Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang dan ada Puti Bungsu dalam merawat, melestarikan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai adat dan syarak di Nagari.
Hal ini disampaikan Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Syaiful Bahri,SP,MM ketika memberikan sambutan dan membuka secara resmi acara Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat dengan tema, Warih Bajawek, Pusako Batarimo, di Grand Rocky Bukittinggi, Jum’at (26 Juni 2026).
Lebih jauh Gubernur menyampaikan, peran dan fungsi lembaga adat disetiap nagari merupakan kekuatan moral sosial masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi berbagai tantangan, ancaman dan pengaruh budaya dari luar yang nyata-nyata dapat merusak tatanan sosial ketentraman hidup masyarakat Sumbar yang berfilosofikan Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah.
“Di Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat kami punya takeline, Merawat Tradisi, Menjaga Jati Diri, Lapuak-lapuak dikajangi, Lapuak-lapuak dikajangi, usang-usang dibaharui, bahwa segala nilai aturan dan tradisi lama harus terus dipelajari, dipahami dan disesuaikan dengan perkembangan zaman agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas aslinya”, ujar Syaiful Bahri.
Syaiful Bahri katakan, Saat ini ada 2 juta orang penutur bahasan Minang menurun draktis dari Seminar Kebudayaan dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4), di Auditorium UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi, beberapa waktu lalu.
“Kenapa menurun drakatis penutur bahasa minangkabau itu pertama karena lingkungan Keluarga, dimana penggunaan bahasa ibu (minang) mulai luntur akibat orang tua lebih sering berbahasa Indonesia kepada anak-anak. Kedua arus Urbanisasi & Globalisasi, perantau dan generasi muda lebih menguasai bahasa nasional atau bahasa asing, dan ketiga pendidikan, pembelajaran muatan lokal di sekolah belum optimal secara menyeluruh,” jelasnya.
Syaiful sampaikan, marilah kita kembali perankan bahasa minang sebagai bahasa dalam keluarga, diskusi-diskusi umum masyarakat dan dalam percakapan sehari-hari sehingga semua ini menambahan logatkan kemahiran kita berbahasa minang.
“Tidak masalah berbahasa minang dimanapun kepada anak-anak kita, karena untuk berbahasa lain mereka akan mudah mendapatkan sekolah, dunia pekerjaan diluar Sumbar, jika tidak dibiasakan dari usia dini maka generasi kita tidak akan tahu dan paham berbahasa minang,” ajaknya.

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Nurna Eva Karmila dalam sambutanya menyampaikan, kita ingin bersama-sama membangun citra Bukittinggi yang hidup masyarakatnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
” Ada kebaikan alam, negeri yang makmur, subur, dan sejahtera secara material, kebaikan perilaku, Penduduk yang senantiasa taat dan bersyukur kepada Tuhan dan ada ampunan Allah Masyarakat yang dinaungi keberkahan dan ampunan dari Allah SWT atas segala kesalahan. Tentu semua ini tidak terlepas dari peran Penghulu Pucuak, Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Alim Ulama dan anak kemanakan kita,” harapnnya.
Nurna Eva juga sampaikan, keprihatian kita dalam kondisi kekinian dari berbagai tantangan, ancaman budaya global memperngaruh kalangan generasi muda kita. Sumatera Barat yang berfilosofikan ABS-SBK tentu menjadi pedanggan pedoman hidup yang baik bagi masyarakat Bukittinggi.
“Kita amat terobsesi untuk mewujudkan Kota Bukittinggi menjadi pedoman kebaikan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, dimana masyarakatnya memiliki jadiri yang kokoh berlandasan adat dan syarak. bermimpi kita anak-anak yang rajin mengaji, rajin belajar kesurau dan masjid, taat beribadah dan santun pada orang tua, mamak, guru-guru dan santun bergaulnya”, harap gembiranya.

Kabid Jarahnitra Zardi Syahrir, SH.MM dalam kesempatan itu menyampaikan tujuan pelaksanaan Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat ini bahagian dari program unggul pemerintah Provinsi Sumatera ” Sumbar Religi dan Berbudaya. Program ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah arah kebijakan yang mengandung komitmen kuat dan kesungguhan bersama untuk menjaga, merawat, serta mengembangkan nilainilai adat dan budaya Minangkabau sebagai jati diri masyarakat Sumatera Barat.
“Kita menyadari bahwa kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masa depan. Oleh karena itu, nilai-nilai adat Minangkabau yang berlandaskan falsafah ABS-SBK harus terus dihidupkan dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah”, ungkapnya. (*)

