Gubernur Sumbar Puji Akan Penampilan Randai Bujang Sembilan, Banggakan juga Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat

by -
Gubernur Sumbar yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaiful Bahri, SP.MM membuka secara resmi Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat dengan tema Adat Dipaga Malu, Syarak Dipaga Jo Hakikat di Grand Rocky Bukittinggi, Jum'at (26 Juni 2026)

semangatnews.com, Bukittinggi – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tersadar dan memuji akan kreatifitas Komunitas perantau Minang di Jabodetabek secara rutin mementaskan kesenian randai, dengan yang terbaru dan terbesar adalah Mahakarya Randai ke-4 bertajuk “Bujang Sambilan, Legenda Danau Maninjau” yang digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki. Dimana sosok Jose Rizal Manua telah berhasil menurunkan nilai-nilai budaya randai bagi anak-anak minang yang lahir dan tumbuh di rantau.  

Hal ini disampaikan Gubernur yang diwakili Kadis Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaiful Bahri, SP, MM pada saat memberikan sambutan pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat dengan tema, Adaik Dipaga Malu, Syarak Dipaga jo Hakekat, di Grand Rocky Bukittinggi, Selasa (26 Juni 2026).

Lebih lanjut Gubernur menyampaikan, Pertunjukan Mahakarya Randai 4, pertunjukan kolosal yang berlangsung selama 2,5 jam ini sukses menyedot perhatian perantau Minang dan masyarakat umum. Gaya legaran penampilkan perpaduan harmonis antara koreografi randai, silek, tari, dendang, dan musik talempong, memukau penonton dengan narasi emosional dan megah.

“Penonton adalah para perantau yang ada disekitar jakarta, bogor, bandung yang diperkirakan lebih dari 1300 orang, ini sesuatu yang luar biasa dan dimana ketika ditanya beberapa orang perantau mereka merasa puas dan kerinduan akan tradisi kampung halaman menjadi kebanggaan tersendiri”, ujar Syaiful Bahri.

Syaiful Bahri juga menambahkan, Mahakarya Randai 4 bertajuk “Bujang Sambilan : Legenda Danau Maninjau” sukses digelar selama 2,5 jam, seolah membawa aura Danau Maninjau ke jantung ibu kota. Dengan Sutradara Jose Rizal Manua & Joharsen meramu kisah klasik Minangkabau dengan koreografi randai, silat, tari, dendang, dan musik talempong menjadi satu narasi cerita yang memukau.

“Anindita Saraswati sebagai Puti Rasani, Ridwan Kainan sebagai Giran, dan Rio Chan sebagai Palimo Bayua berhasil menghidupkan legenda yang diwariskan turun-temurun masyarakat Agam. Randai bukan hanya dinikmati pecinta seni tradisi, tapi juga mendapat ruang di hati para pemangku kebijakan. Randai bukan sekadar seni daerah, tapi aset budaya nasional yang layak dijaga,” ujarnya.

Syaiful Bahri katakan, begitu juga keberadaan Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat, bagaimana peran dan fungsi Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai dapat hidup berperan dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat dan syarak serta dapat diwariskan kepada generasi anak kemenakan kita.

“Peran dan fungsi lembaga adat tentu bagaian dari sinergi dan kalaborasi memajukan pembangunan nagari di Provinsi Sumatera Barat. Dan tak kalah pentingnya juga bagaimana menyiapkan masyarakat kita dan generasi mendatang menghadapi berbagai dampak dari pengaruh globalisasi informasi yang begitu deras, termasuk akan penurunan draktis 2 juta penutur bahasa minang saat ini,” ingatnya.

Kabid Jarahnitra Zardi Syahrir melaporakan kegiatan agenda Bimtek

Kadid Jarahnitra Dinas Kebudayaan Zardi Syahrir, SH.MM dalam laporannya menambahkan, tujuan kegiatan Bimtek ini Peningkatan Kapasitas Bundo Kanduang ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam mewujudkan salah satu Program Unggulan daerah, yaitu Sumbar Religius dan Berbudaya. Program ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah arah kebijakan yang mengandung komitmen kuat dan kesungguhan bersama untuk menjaga, merawat, serta mengembangkan nilainilai adat dan budaya Minangkabau sebagai jati diri masyarakat Sumatera Barat.

“Kita menyadari bahwa kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masa depan. Oleh karena itu, nilai-nilai adat Minangkabau yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah harus terus dihidupkan dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Zardi sampaikan, Falsafah ini mengajarkan bahwa adat dan agama tidak dapat dipisahkan, melainkan saling menguatkan dan menjadi pedoman dalam membentuk karakter masyarakat yang berakhlak, beretika, dan berkepribadian luhur. Dalam konteks inilah, pembangunan di Sumatera Barat tidak hanya diukur dari aspek fisik dan ekonomi semata, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai religius dan budaya tetap terjaga dan menjadi landasan dalam setiap langkah pembangunan.

“Melalui program ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berupaya mendorong sinergi antara seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, lembaga adat, alim ulama, cadiak pandai, hingga Bundo Kanduang, untuk bersama-sama menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur tersebut. Dengan demikian, diharapkan Sumatera Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, tetapi juga sebagai daerah yang mampu menjadikan nilai budaya sebagai kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman”, ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.