Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir semester I 2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam batas yang aman dan jauh di bawah ketentuan maksimal defisit fiskal sebesar 3 persen dari PDB.
Penyampaian realisasi APBN dilakukan dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Pemerintah menjelaskan bahwa defisit tersebut merupakan bagian dari strategi fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung berbagai program prioritas nasional.
Di sisi pendapatan, negara berhasil menghimpun Rp1.459,4 triliun atau sekitar 46,3 persen dari target APBN 2026. Capaian tersebut meningkat 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan penerimaan negara terus mengalami perbaikan.
Peningkatan pendapatan ditopang oleh membaiknya penerimaan perpajakan, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak. Pemerintah juga menyebut reformasi administrasi perpajakan mulai memberikan hasil positif terhadap kinerja penerimaan negara.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai sekitar Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu anggaran. Belanja tersebut dialokasikan untuk mendukung operasional pemerintahan, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah.
Belanja pemerintah pusat masih menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran negara. Selain itu, transfer ke daerah juga terus disalurkan guna memastikan pelayanan publik dan pembangunan di berbagai wilayah tetap berjalan sesuai rencana.
Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Pemerintah tetap berkomitmen menjaga keseimbangan antara peningkatan belanja produktif dan keberlanjutan fiskal.
Menurut pemerintah, defisit pada semester pertama merupakan kondisi yang lazim karena pola belanja negara umumnya lebih besar pada awal hingga pertengahan tahun, sementara penerimaan akan terus bertambah pada semester berikutnya.
Pemerintah juga memastikan kebutuhan pembiayaan defisit akan dikelola secara hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi maupun pasar keuangan domestik. Langkah tersebut dilakukan melalui strategi pembiayaan yang terukur dan efisien.
Berbagai indikator fiskal yang masih berada dalam batas aman dinilai memberikan ruang bagi pemerintah untuk tetap melanjutkan program pembangunan sekaligus menjaga daya tahan ekonomi nasional menghadapi dinamika global.
Dengan realisasi APBN semester pertama yang masih terkendali, pemerintah optimistis pengelolaan fiskal sepanjang 2026 tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas keuangan negara, serta mendukung pencapaian target pembangunan nasional.(*)

