Jakarta, Semangatnews.com – Upaya pencarian korban bencana banjir bandang di kawasan Nepal dan Tibet terus dikebut. Memasuki hari kelima setelah bencana, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai sekitar 750 orang, sedangkan lebih dari 3.000 orang masih dilaporkan hilang.
Otoritas Nepal mencatat 734 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebanyak 2.498 orang masih belum diketahui keberadaannya. Sementara itu, China melaporkan 16 korban meninggal di wilayah Tibet dan ratusan orang lainnya masih dalam pencarian.
Bencana bermula dari runtuhnya material gletser dan longsoran di kawasan Himalaya pada Rabu (26/8/2026). Peristiwa tersebut memicu banjir besar yang membawa campuran air, lumpur, batu, serta material es menuju lembah dan permukiman di sepanjang aliran sungai.
Kekuatan arus membuat kerusakan terjadi dalam waktu singkat. Sejumlah jalan dan jembatan hancur sehingga jalur yang sebelumnya menjadi akses utama menuju daerah terdampak tidak lagi dapat digunakan. Kondisi ini membuat distribusi bantuan dan pergerakan tim penyelamat menjadi semakin sulit.
Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel keamanan untuk mendukung operasi darurat. Tim penyelamat menyisir sejumlah wilayah yang terdampak sambil mengevakuasi warga yang masih terjebak di daerah terisolasi.
Helikopter juga digunakan untuk menjangkau lokasi yang sulit ditembus melalui jalur darat. Selain mengangkut korban selamat, penerbangan tersebut dimanfaatkan untuk membawa bantuan serta memantau kondisi wilayah yang belum dapat dijangkau langsung oleh petugas.
Salah satu fokus utama penyelamatan berada di kawasan pembangkit listrik tenaga air. Sejumlah pekerja diduga terjebak di dalam terowongan setelah fasilitas tersebut terdampak material banjir dan longsor. Tim penyelamat berupaya membuka akses agar para pekerja dapat segera dievakuasi.
Proses identifikasi korban juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak jenazah ditemukan dalam kondisi sulit dikenali sehingga pemerintah Nepal membutuhkan dukungan peralatan forensik dan pemeriksaan DNA untuk membantu memastikan identitas korban.
Di tengah operasi pencarian, ancaman bencana lanjutan masih membayangi masyarakat. Kenaikan permukaan Sungai Bhotekoshi membuat otoritas Nepal mengeluarkan peringatan agar warga di wilayah berisiko menghindari kawasan rendah dan mencari tempat yang lebih aman.
Kondisi di sejumlah titik perbatasan juga belum sepenuhnya stabil. Tim penyelamat harus memperhitungkan risiko longsor, kenaikan air, serta material yang masih dapat bergerak sebelum melakukan pencarian di kawasan tertentu.
Dengan ribuan orang masih dinyatakan hilang, operasi SAR kini berpacu dengan waktu. Pemerintah Nepal dan China terus berupaya memperluas pencarian, sementara bantuan dan dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan untuk mempercepat evakuasi, identifikasi korban, serta penanganan warga yang terdampak bencana.(*)

