Cabai Rawit Nyaris Rp100 Ribu, Pemerintah Siapkan Strategi Jaga Pasokan

by

Jakarta, Semangatnews.com – Harga cabai rawit merah kembali menjadi perhatian setelah mengalami kenaikan di pasar. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut harga rata-rata nasional cabai rawit berada di sekitar Rp70.000 per kilogram, dengan kondisi cuaca panas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tersebut.

Berdasarkan pemantauan Kemendag, harga cabai memang bergerak naik untuk beberapa jenis. Cabai rawit merah tercatat Rp74.435 per kilogram, cabai merah keriting Rp55.996 per kilogram, sedangkan cabai merah besar mencapai Rp48.202 per kilogram.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap harga pangan yang sudah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir. BPS sebelumnya mencatat harga cabai rawit secara nasional mencapai sekitar Rp73.000 per kilogram pada minggu pertama September 2026.

Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan harga rata-rata pada Agustus 2026. BPS mencatat harga cabai rawit pada bulan sebelumnya berada di kisaran Rp59.760 per kilogram sehingga terjadi kenaikan sekitar 22,3 persen.

Kenaikan harga juga terjadi karena produksi cabai menghadapi tantangan akibat kondisi lingkungan. Cuaca panas berkepanjangan membuat ketersediaan air di sejumlah sentra produksi menjadi terbatas dan berpotensi mengganggu produktivitas tanaman.

Dewan Ekonomi Nasional mencatat harga cabai rawit pada minggu kedua September meningkat 37,8 persen secara bulanan. Untuk cabai merah, kenaikan secara bulanan tercatat 26,8 persen, dengan krisis ketersediaan air dan fenomena El Niño disebut sebagai faktor yang berpengaruh.

Sementara itu, pelaku usaha cabai juga melihat adanya tekanan dari sisi pasokan. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Abdul Hamid sebelumnya mengatakan harga cabai rawit merah di tingkat petani telah mencapai Rp65.000 per kilogram dan harga di pasar dapat berada di kisaran Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

Menurut Abdul, produksi cabai saat ini lebih banyak mengandalkan wilayah dataran rendah. Apabila kondisi kemarau berkepanjangan terus terjadi, ketersediaan cabai berpotensi semakin terbatas dan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga.

Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Perdagangan memilih memperkuat koordinasi distribusi. Budi mengatakan pasokan dari wilayah yang mengalami surplus akan diarahkan ke daerah yang mengalami defisit untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Langkah distribusi menjadi penting karena perbedaan pasokan antardaerah dapat membuat harga cabai bergerak berbeda-beda. Pemerintah juga perlu memantau perkembangan produksi dari sentra-sentra cabai agar pasokan dapat segera dialihkan ketika terjadi kekurangan.

Untuk saat ini, kondisi cuaca masih menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas harga cabai. Pemerintah terus berkomunikasi dengan berbagai pihak agar ketersediaan komoditas tetap terjaga dan kenaikan harga tidak semakin meluas.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.