Rupiah Tertekan Jelang RDG BI, Suku Bunga 5,75 Persen Jadi Sorotan

by

Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan rupiah kembali menjadi perhatian menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada September 2026. Nilai tukar mata uang Garuda bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS ketika pasar menunggu keputusan mengenai suku bunga acuan.

Data JISDOR Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp17.883 per dolar AS pada Selasa (22/9/2026). Posisi tersebut melemah Rp70 dibandingkan dengan level Rp17.813 per dolar AS pada 21 September 2026.

Pelemahan rupiah tersebut membuat arah kebijakan BI menjadi perhatian pelaku pasar. Terlebih, RDG BI digelar pada 22-23 September 2026, berdekatan dengan keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya pada pekan sebelumnya.

Saat ini BI-Rate berada di level 5,75 persen. Tingkat tersebut telah dipertahankan dalam beberapa RDG terakhir setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga secara bertahap pada Mei dan Juni 2026.

Dalam keputusan Agustus, BI menyatakan kebijakan mempertahankan BI-Rate ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Tekanan eksternal menjadi salah satu tantangan bagi rupiah. Kenaikan suku bunga The Fed menjadi 3,75-4 persen membuat pasar kembali memperhatikan selisih imbal hasil antara aset Indonesia dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan modal di pasar keuangan.

Meski demikian, keputusan BI tidak hanya ditentukan oleh pergerakan nilai tukar. Kondisi inflasi, pertumbuhan ekonomi, likuiditas perbankan, serta dinamika pasar keuangan juga menjadi bagian dari pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan.

Bank Indonesia selama ini menggunakan kombinasi kebijakan moneter dan kebijakan lainnya untuk menjaga stabilitas. Dalam kebijakan Agustus, BI antara lain memperkuat instrumen lindung nilai dan memperluas insentif untuk mendorong aliran modal masuk serta memperkuat pasar valuta asing.

Perubahan BI-Rate juga memiliki konsekuensi terhadap sektor perbankan. Ketika suku bunga acuan meningkat, biaya dana dan bunga kredit dapat ikut terdorong naik, meskipun dampaknya terhadap setiap produk perbankan tidak selalu terjadi secara langsung.

Sebaliknya, mempertahankan suku bunga dapat memberikan ruang bagi aktivitas kredit dan pertumbuhan ekonomi, tetapi BI tetap perlu memperhatikan tekanan terhadap nilai tukar. Karena itu, arah kebijakan September menjadi bagian dari keseimbangan antara menjaga stabilitas dan mendukung aktivitas ekonomi.

Pergerakan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS dengan demikian menjadi salah satu perkembangan yang akan diperhatikan pasar setelah RDG September. Keputusan BI beserta strategi stabilisasi nilai tukar selanjutnya akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.