Bukan Cuma Dolar, Ini Faktor yang Membuat Rupiah Tertekan di Level Rp18.000

by

Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah mata uang Indonesia sempat melewati level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan akhir September 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari pasar keuangan global.

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya berkaitan dengan permintaan terhadap dolar AS. Pergerakan yield obligasi Amerika Serikat, harga minyak, serta persepsi investor terhadap kondisi pasar negara berkembang turut menjadi faktor yang diperhatikan.

Pada 29 September 2026, rupiah melemah hingga sekitar Rp18.002 per dolar AS. Reuters mencatat tekanan tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan yield Treasury AS dan harga minyak dunia.

Kenaikan yield Treasury membuat aset keuangan Amerika Serikat menjadi salah satu perhatian investor global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arus modal ke negara berkembang karena investor mempertimbangkan tingkat imbal hasil dan risiko dari berbagai instrumen investasi.

Sementara itu, harga minyak juga memberikan tekanan tambahan. Perubahan harga energi dapat memengaruhi kebutuhan valuta asing dan sentimen pasar terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia tetap menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Pada September 2026, BI juga meningkatkan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas pasar keuangan.

BI sebelumnya telah mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026. Kebijakan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari strategi stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal.

Bank Indonesia juga memperluas insentif pada sejumlah instrumen lindung nilai untuk mendorong masuknya pendanaan luar negeri. Kebijakan tersebut mencakup transaksi yang berkaitan dengan aliran investasi portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, serta investasi langsung asing.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tidak berarti seluruh indikator aliran dana asing mengalami penurunan. Hingga 28 September 2026, BI mencatat aliran modal asing secara kumulatif masih mencapai Rp131 triliun secara year to date. Dana tersebut terutama masuk melalui SRBI dan SBN, sementara pasar saham mencatat outflow.

Pergerakan rupiah pada 30 September juga memperlihatkan adanya pemulihan dalam perdagangan harian. Mata uang Garuda ditutup di Rp17.894 per dolar AS atau menguat sekitar 0,48 persen, seiring perubahan sentimen pasar dan perkembangan harga minyak.

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan bergantung pada kombinasi faktor eksternal dan domestik. Pasar akan mencermati kebijakan bank sentral, pergerakan yield AS, harga energi, arus modal asing, serta perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.