Jakarta, Semangatnews.com – Pasar logam mulia global kembali menghadapi tekanan. Harga emas dan perak sama-sama terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (7/10/2026), dengan emas merosot ke level terendah dalam dua bulan dan harga perak kembali jatuh di bawah US$60 per troy ons.
Penurunan emas terjadi ketika investor menghadapi penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury. Dua faktor tersebut membuat aset logam mulia yang tidak menghasilkan bunga menjadi relatif kurang menarik dibandingkan instrumen keuangan berbasis dolar.
Harga emas berdasarkan data Refinitiv ditutup di sekitar US$4.110,55 per troy ons pada Rabu. Harga tersebut mengalami penurunan sekitar 1,3% dan menjadi posisi terendah sejak awal Agustus 2026.
Data perdagangan juga menunjukkan tekanan belum sepenuhnya berakhir pada Kamis pagi. Sekitar pukul 06.19 WIB, harga emas masih turun tipis 0,03% menjadi US$4.110,01 per troy ons.
Pergerakan emas sangat dipengaruhi kondisi pasar valuta asing. Indeks dolar AS atau DXY tercatat naik 0,4% ke 102,42. Penguatan tersebut membuat harga emas dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Kenaikan yield Treasury AS juga memperbesar tekanan. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun berada pada level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset yang menawarkan imbal hasil dan pada saat bersamaan mengurangi minat terhadap emas.
Investor kini menunggu sinyal lebih jelas dari Federal Reserve mengenai kebijakan suku bunga. Pasar memperkirakan bank sentral AS kemungkinan mempertahankan suku bunga pada akhir Oktober, sementara peluang kenaikan pada Desember masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid bahkan menyebut suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut untuk menekan inflasi, sementara Mary Daly dari San Francisco Fed menekankan pentingnya melihat keberlanjutan tekanan harga.
Di tengah tekanan tersebut, perak mengalami penurunan yang bahkan lebih dalam. Harga perak ditutup sekitar US$60,15 per troy ons pada Rabu, turun 2,5% sekaligus mencapai level terendah dalam dua bulan.
Harga perak kemudian kembali turun pada perdagangan Kamis pagi. Komoditas tersebut tercatat melemah 0,61% menjadi US$59,78 per troy ons. Dengan demikian, harga perak kembali berada di bawah batas psikologis US$60.
Meski demikian, penurunan harga belum berarti prospek logam mulia sepenuhnya berubah menjadi negatif. Permintaan bank sentral masih menjadi salah satu faktor pendukung, dengan bank sentral China melanjutkan pembelian emas hingga September dan memperpanjang tren pembelian menjadi 23 bulan berturut-turut.(*)

