Bukan Sekadar Harga Murah, Ini Cara Menilai Saham Potensial Menurut Andry Hakim dan Gema Goeyardi

by

Jakarta, Semangatnews.com – Menentukan saham berpotensi menguntungkan di tengah gejolak pasar membutuhkan lebih dari sekadar melihat harga yang telah turun tajam. Investor perlu menilai kekuatan bisnis, kewajaran valuasi, dan peluang perusahaan untuk bertumbuh agar tidak terjebak membeli saham yang terlihat murah tetapi memiliki risiko besar.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi When Market Swings, Winner Think di Investor Daily Room, Jakarta, pada 8 Oktober 2026. Forum tersebut menghadirkan investor Andry Hakim, pendiri Astronacci International Gema Goeyardi, serta Zabrina Raissa dari Ciptadana Sekuritas Asia.

Andry Hakim menegaskan bahwa saham harus dipahami sebagai bentuk kepemilikan atas suatu perusahaan. Dengan perspektif tersebut, investor perlu mempelajari bisnis yang dijalankan emiten, kinerja keuangan, kualitas manajemen, dan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan sebelum memutuskan membeli saham.

Menurut Andry, kondisi pasar yang melemah tidak selalu menjadi alasan untuk menghindari investasi. Penurunan harga justru dapat membuka peluang apabila harga saham berada di bawah nilai wajarnya, sementara kondisi fundamental perusahaan masih mendukung prospek bisnis dalam jangka panjang.

Namun, investor perlu berhati-hati dalam membedakan peluang investasi dengan jebakan nilai atau value trap. Saham yang terus turun belum tentu murah apabila penurunan tersebut mencerminkan memburuknya kinerja perusahaan, meningkatnya utang, atau melemahnya prospek bisnis.

Salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan adalah pembagian dividen. Perusahaan dengan arus kas yang sehat dan kebijakan dividen berkelanjutan berpotensi memberikan pendapatan tambahan kepada pemegang saham, meskipun harga sahamnya belum mengalami pemulihan.

Gema Goeyardi menambahkan bahwa pemahaman terhadap siklus pasar juga diperlukan untuk menentukan strategi. Menurutnya, investor harus memperhatikan perubahan kondisi ekonomi, sentimen pasar, dan pergerakan arus dana sebelum mengambil keputusan investasi.

Gema turut menyoroti faktor psikologis yang sering memengaruhi keputusan investor ketika harga saham turun. Kepanikan dapat mendorong penjualan pada waktu yang kurang tepat, sementara optimisme berlebihan dapat membuat investor mengabaikan risiko ketika harga mulai meningkat.

Di sisi lain, diversifikasi menjadi salah satu pendekatan untuk mengelola risiko portofolio. Investor dapat mempertimbangkan pembagian dana antara saham dengan fundamental relatif defensif dan saham yang menawarkan peluang pertumbuhan lebih tinggi, dengan proporsi yang disesuaikan terhadap profil risiko masing-masing.

Zabrina Raissa memaparkan ilustrasi strategi dengan alokasi 70 persen untuk portofolio inti dan 30 persen untuk portofolio pelengkap. Portofolio inti diarahkan pada saham defensif dengan fundamental solid, sedangkan portofolio pelengkap dapat berisi saham dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi ketika kondisi pasar membaik. Komposisi tersebut merupakan pendekatan yang dipaparkan dalam diskusi, bukan formula yang wajib diterapkan semua investor.

Kondisi pasar pada Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa keputusan investasi perlu memperhitungkan faktor domestik maupun global. Koreksi IHSG yang mencapai 28,91 persen sepanjang tahun berjalan hingga 7 Oktober 2026 menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi pasar saham Indonesia pada periode tersebut.

Pada akhirnya, investor perlu menggabungkan analisis fundamental, penilaian valuasi, pemahaman siklus pasar, dan pengelolaan risiko sebelum membeli saham. Harga yang turun dapat menjadi titik awal untuk melakukan riset lebih mendalam, tetapi keputusan investasi tetap harus didasarkan pada data dan tujuan keuangan masing-masing, bukan semata-mata mengikuti rekomendasi atau pergerakan investor lain.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.