Rupiah Ambruk di Atas Rp18.000, Bank Indonesia Siapkan Intervensi untuk Redam Gejolak

by

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan serius pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Mata uang Garuda melemah hingga Rp18.038 per dolar AS pada awal perdagangan, memicu perhatian terhadap langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip sejumlah media, rupiah dibuka melemah 100 poin atau 0,56 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS. Pelemahan ini membuat nilai tukar rupiah kembali bergerak di atas ambang Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut terjadi ketika pasar keuangan domestik menghadapi tekanan dari berbagai arah. Ketidakpastian global, perkembangan pasar modal Indonesia, serta meningkatnya risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan keputusan investasi.

Bank Indonesia menyatakan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Bank sentral juga berupaya memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian keuangan internasional.

Salah satu langkah yang dilakukan BI adalah intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Instrumen tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya bank sentral untuk mengelola tekanan nilai tukar dan menjaga stabilitas pasar valuta asing.

Selain NDF, BI juga melakukan transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Intervensi tersebut dilengkapi dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas pasar keuangan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berkaitan dengan meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar global. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS sekaligus menekan aliran dana ke aset negara berkembang.

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan inflasi Amerika Serikat. Apabila inflasi tetap tinggi, pasar dapat memperkirakan kebijakan suku bunga AS akan bertahan ketat lebih lama. Situasi ini berpotensi memengaruhi arus modal internasional dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan ketidakpastian harga energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan devisa untuk impor energi dapat bertambah dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian Indonesia.

Meski rupiah melemah, BI menyebut cadangan devisa Indonesia masih berada di level US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Bank sentral juga terus menjaga kecukupan likuiditas pasar uang serta memperkuat koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendukung stabilitas keuangan.

Pergerakan rupiah berikutnya akan bergantung pada perkembangan kondisi global, respons investor terhadap pasar domestik, serta efektivitas kebijakan stabilisasi yang ditempuh BI. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan mencermati perubahan kurs, terutama untuk transaksi yang berkaitan dengan impor, pembayaran utang dalam valuta asing, dan kebutuhan dolar AS lainnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.