Dolar AS Makin Mahal, Rupiah Mendekati Rp18.000: Ini Faktor yang Membayangi Pergerakannya

by

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.022 per dolar AS, menandakan bahwa mata uang domestik belum sepenuhnya terbebas dari gejolak pasar keuangan.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah menutup perdagangan Rabu (21/10/2026) pada level yang sama, yakni Rp18.022 per dolar AS, atau turun sekitar 0,17 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih menjadi perhatian investor dan pelaku usaha.

Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut dinilai memengaruhi ekspektasi pasar, terutama ketika investor mempertimbangkan langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai respons pasar terhadap kebijakan BI turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Namun, kondisi pasar saham domestik yang mulai membaik dapat membantu membatasi pelemahan lebih lanjut.

Selain kebijakan moneter, ketidakpastian di pasar keuangan global juga berpotensi memengaruhi permintaan terhadap dolar AS. Perubahan persepsi risiko investor dapat mendorong perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pembenahan tata kelola pasar modal Indonesia. Usulan MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menambah ketidakpastian, terutama karena keputusan tersebut berpotensi memengaruhi strategi investasi investor institusi internasional.

Pemerintah dan otoritas pasar modal perlu memastikan bahwa upaya peningkatan transparansi berjalan secara konsisten. Perbaikan keterbukaan informasi kepemilikan saham dan kualitas perdagangan diharapkan membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Tekanan rupiah juga berpotensi dirasakan langsung oleh sektor usaha yang menggunakan bahan baku impor. Kenaikan biaya pembelian bahan baku dan mesin dapat mempersempit keuntungan perusahaan, khususnya apabila kenaikan biaya tersebut tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong sebelumnya mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat menghambat ekspansi pengusaha muda dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Pelaku usaha berpotensi menunda pembukaan cabang, penambahan kapasitas produksi, hingga perekrutan tenaga kerja apabila biaya operasional terus meningkat.

Untuk perdagangan Kamis, Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS. Pergerakan tersebut diperkirakan masih fluktuatif karena pelaku pasar terus menilai perkembangan kebijakan moneter dan sentimen eksternal.

Ke depan, stabilitas rupiah akan bergantung pada kombinasi kebijakan ekonomi domestik, kondisi pasar global, serta tingkat kepercayaan investor. Penguatan fundamental ekonomi, pengendalian risiko eksternal, dan koordinasi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga kestabilan nilai tukar sekaligus mengurangi dampaknya terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.