Jakarta, Semangatnews.com – Pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan pada Rabu (28/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 1% pada awal perdagangan, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi domestik, pergerakan nilai tukar, dan ketidakpastian pasar global.
IHSG dibuka pada level 5.249,07 sebelum bergerak turun hingga 5.191,55 pada menit-menit awal perdagangan. Penurunan sebesar 74,58 poin atau 1,42% tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual masih membayangi pasar setelah indeks mengalami koreksi tajam pada perdagangan sebelumnya.
Salah satu penyebab yang menjadi perhatian adalah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.180 per dolar AS meningkatkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan impor besar maupun kewajiban dalam mata uang asing.
Pelemahan rupiah juga menjadi faktor yang diperhatikan investor asing ketika menilai prospek investasi di Indonesia. Perubahan nilai tukar dapat memengaruhi hasil investasi setelah dikonversi ke mata uang asal, sehingga berpotensi memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan modalnya.
Selain nilai tukar, arus keluar modal asing turut menambah tekanan di pasar keuangan domestik. Ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, saham-saham berkapitalisasi besar dapat mengalami tekanan jual dan menyeret pergerakan indeks secara keseluruhan.
Faktor lain yang membebani IHSG adalah meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang bergerak di atas 7,5% membuat investor membandingkan potensi keuntungan saham dengan instrumen pendapatan tetap, sekaligus memperhatikan risiko investasi di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Dari sisi sektoral, saham infrastruktur menjadi salah satu penekan utama pada awal perdagangan dengan pelemahan sekitar 2,4%. Sektor teknologi turun sekitar 1,3%, sedangkan sektor energi melemah sekitar 0,7%, memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok industri.
Investor juga mencermati perkembangan evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia. Persoalan transparansi struktur kepemilikan dan ketersediaan saham yang benar-benar dapat diperdagangkan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi investor internasional terhadap kualitas pasar modal nasional.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat. Arah suku bunga dan pernyataan bank sentral mengenai prospek inflasi akan menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan aliran investasi lintas negara.
Perkembangan kebijakan pasar modal dalam negeri juga akan menjadi perhatian, termasuk langkah Bursa Efek Indonesia dan otoritas terkait untuk memperkuat transparansi serta pengawasan perdagangan. Pelaksanaan reformasi yang konsisten dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan memperbaiki kualitas pasar saham Indonesia.
Meski IHSG mengalami tekanan pada awal sesi, arah perdagangan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan transaksi dan sentimen yang muncul sepanjang hari. Investor diimbau tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan jangka pendek, tetapi mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan, toleransi risiko, dan tujuan investasi masing-masing.(*)

