Defriman Djafri: Kesiapan Daerah Pasca PSBB, Kunci Sukses ; Pro Aktif bukan Reaktif
Semangatnews,Padang- Keberhasilan PSBB tidak hanya dilihat dari outcome penurunan kasus, tetapi juga dari indikator proses sebagai bentuk respon dan kesiapan daerah dalam pencegahan dan pengendalian covid -19 pada masa dan pasca psbb sudah dicabut.
Hal ini diingatkan Defriman Djafri Dekan FKM Unand saat menjadi narasumber vidcon dengan sejumlah Wartawan, Sabtu 2 Mei 2020.
Vidcon dipandu Jonnedy Kambang(IJTI) dengan topik “kapan berakhirnya wabah covid 19 di Sumbar”, dekan FKM Unand ini mengajak semua komponen di daerah ini berikhtiar bagaimana mengoperasionalkan psbb di lapangan sesuai dengan local wisdom(kearifan lokal) di daerah masing-masing.
Itu semua menjadi tanggungjawab kita bersama, sebut Defriman.
Kunci sukses pengendalian, lanjutnya adalah proaktif bukan reaktif.Dimana secara kelembagaan tugasnya mendeteksi, pelacakan kontak, isolasi dan promosi/sosialisasi dan literasi kesehatan.
Sedangkan secara individu; jaga jarak fisik dan sosial( social/physical distancing). Siapkan alat pelindung diri, hygiene perorangan dan lakukan pembatasan perjalanan.
Menyinggung lebih jauh tentang target promosi, pendidikan dan literasi kesehatan, Defriman yang ahli kesehatan masyarakat ini, membagi masyarakat dalam 4 kelompok.
Kelompok pertama adalah kelompok aman yang sangat peduli dan pengatuhan tinggi. Cirinya dengan kondisi wabah ini, tetap tinggal di rumah ( stay at home), tetap sehat(stay healthy), tetap bersih(stay clean) dan tetap tenang(stay cool).
Kelompok kedua; kelompok yang panik. Ia sangat peduli, namun karena pengetahuan rendah, maka kelompok ini percaya hoax, suka mengucilkan diri dan menolak anjuran lembaga lantaran hanya berpegang pada kepercayaan.
Kelompok ketiga; adalah kelompok anggap enteng dan sok tahu. Meskipun pengetahuan tinggi tapi tidak memahami flattening the curve( meratakan kurva). Beranggapan pakai masker hanya untuk yang sakit. Percaya akan kekebalan kawanan( herd immunity).
Yang paling riskan itu adalah kelompok ke empat dengan pengetahuan rendah plus tidak peduli. Kondisinya adalah keterpaksaan ekonomi. Rumah super sempit.Pulsa terbatas dan makan asal kenyang.
Menurut Defriman dari semua itu, maka kelompok ke empat inilah merupakan target dan skala prioritas untuk sosialisasi, pendidikan dan literasi kesehatan.
Dalam hal promosi kesehatan dan pencegahan upaya yang harus dilakukan adalah sosialisasi dan komunikadi. Upaya identifikasi dan mengatasi stigma negatif terhadap OTG( Orang Tanpa Gejala),ODP, PDP, kasus terkonfirmasi dan keluarganya.
Ada upaya tokoh agama, tokoh adat dalam mengedukasi kesehatan.
Lakukan disinfeksi tempat umum secara periodik.
Defriman menyebutkan indikator penguatan sistem kesehatan dan sosial maka harus ada keterbukaan dan transparansi. Pemahaman sama terhadap SOP.
Harus ada koordinasi antar instansi kesehatan( FKTP, rumah sakit rujukan dan dinas kesehatan).
Tidak kalah pentingnya adalah kerjasama lintas sektoral dalam prosesi pemakaman dan penyaluran bantuan sosial, sebut Defriman.(zln)

