Dr Andani Eka Putra: Secara Nasional Penanganan Covid Masih Fokus pada Pasien

by -

Sumbar Tertinggi Lakukan Tes PCR

Semangatnews, Padang- Dr.dr.Andani Eka Putra menyatakan bahwa penanganan covid secara nasional masih dominan dan fokus pada pasien atau  orang yang telah terpapar di berbagai rumah sakit.

Padahal yang paling penting itu adalah menemukan orang orang di luar yang pergerakannya tidak bisa dipantau dan dibatasi.

Ini yang mesti dilakukan dalam kaitan memutus rantai penyebaran virus covid 19.
Andani menjelaskan ini, Senin 8/6 sekaitan pemberitaan Semangatnews, minggu,7/06 kemarin.

Kepala Labor Unand ini mengistilahkan bahwa pasien di rumah sakit itu adalah harimau di dalam kandang, dan orang di luar  di tengah masyarakat disebut harimau di luar.

Lalu mana yang lebih baik menangkap harimau di kandang atau di luar kandang. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Andani, tentunya yang lebih baik adalah menangkap harimau di luar.

Semakin banyak ditemukan semakin bagus. Jangan dikatakan jelek, karena kita cepat dapat menemukan, sebelum virus ini menjadi massal di tengah masyarakat.

Ini yang dilakukan Sumbar, fokus mencari dan menemukan dilapangan. Bukan berarti penanganan pasien tidak penting. Tapi yang dirumah sakit sudah jelas, yang sulit itu adalah di lapangan menemukan orang yang terus bergerak.

Untuk itu garda terdepan itu adalah di lapangan bukan di rumah sakit, tegas Andani yang mengaku bahwa penangan  virus covid di Sumbar sejalan dengan keinginan WHO yakni memutus rantai di tengah masyarakat.

Apa yang ia kerjakan di Sumatera Barat, setidaknya sudah menunjukkan indikator positif. Dengan kapasitas lab yang ada, ia mampu menorehkan angka perbandingan 0,43 persen dari jumlah penduduk Sumbar yang dilakukan tes PCR. Bandingkan dengan angka nasional yang masih 0,08 persen.

“Kami telah memeriksa 24.000 penduduk dari 5 juta penduduk, sekitar 0,43 persen. Sementara di Korea Selatan, 1,3 persen. Setidaknya di Indonesia, Sumbar adalah yang tertinggi. Harusnya semua provinsi berlomba-lomba memperbanyak jumlah pendduk yang dites,” katanya.

Karenanya, Andani prihatin ketika koleganya sesama dokter di Jakarta bercerita, bahwa ketika ada pasien masuk, yang dirawat hanya pasien, sementara keluarganya tidak diperiksa. “Ini terjadi karena memang kapasitas labotarotium di Jakarta juga terbatas,” ujarnya.

Sedangkan kepada teman-teman di Dinas Kesehatan di mana pun berada, termasuk di Kementerian Kesehatan, Andani berharap bisa bekerjasama, menghentikan ego sektoral. Harus dibangun komitmen bersama. “Sederhananya, jangan ada yang merasa paling hebat, tapi pekerjaannya sedikit.


Menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi new normal. Dengan tegas Andani menjawab, masyarakat sudah harus dan mutlak patuhi protokol kesehatan.

New normal bukan berarti kembali kepada suasana sebelum munculnya covid. New normal adalah setiap individu kapan dan dimanapun mendisiplinkan diri untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Semua tanpa kecuali, mempunyai komitmen yang tinggi untuk memutus rantai penyeberan. Tidak bisa diserahkan ini menjadi tanggungjawab pemerintah semata, tukas Andani.

Sampai belum ditemukannya vaksin, dan belum adanya kepastian kapan Covid-19 akan hilang, maka Andani pun belum akan berhenti. Ia masih akan memacu diri dan timnya untuk bekerja ekstra keras memperbanyak pemeriksaan sampel. Bahkan, jika labnya diberi perlengkapan tambahan, ia optimis mampu menyelesaikan pemeriksaan hingga 4.000 sampel par hari.

“Seba lab ini tidak akan hilang, meski misalnya, corona sudah hilang. Alat ini akan selalu ada dan bermanfaat,” tutupnya.(zln)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.