Catatan Zulnadi ;Pak Achyarli Sosok Pribadi Berjalan Lurus, Berkata Benar
INNA LILLAHI WA INNAILAIHIROJIUN; telah meninggal dunia Bapak H. Achyarli A. Djalil,S.H. pada Jum’at, dinihari tadi sekitar pukul 2.30 wib di RS Yos Sudarso Padang.
Itulah penggalan postingan Da Irvan Khairul Ananda (IKA) di grup WA Sakato Tuo Sumbar, yang selalu saya buka setiap pagi ba’da subuh.
Berita duka yang disampaikan Da IKA ini telah mengejutkan semua anggota grup sembari mengucapkan turut belasungkawa.
Kepergian beliau tidak hanya mengejutkan anggota grup WA, tetapi di FB juga sudah ada catatan Bung Hasril Chaniago, Wartawan Senior Sumbar.
Hasril kenal dengan Pak Achyarli semasa menjadi Sekda Agam sampai beliau menjadi Sekwilda Sumbar.
Pak Rusdi Lubis-pun yang pamong senior itu juga menulis kenangan bersama Pak Achyarli. Tulisan pak Rusdi, saya muat pada media online semangatnews dimana saya sebagai pemimpin redaksinya.
Saya juga punya banyak catatan dengan Pak Achyarli. Saat itu saya staf humas kantor Gubernur dengan Kepala Bironya bapak Drs.Yohannes Dahlan.
Apa yang diungkapkan pak Rusdi dalam tulisannya itu benar sekali. Pak Achyarli adalah sosok pribadi yang sangat teliti. Suatu ketika kabag Tata Usaha Biro Umum menaikan SK tentang kepanitiaan peringatan hari kemerdekaan.
Heri Lamsuin,SH selaku kabag Tatausaha harus bolak balik memperbaiki SK yang akan diparaf Sekwilda yang bernama H.M.Achyarli A.Djalil,SH.
Terakhir yang beliau koreksi adalah nama saya yang ada dalam sk tersebut dimana Heri lupa mencantumkan gelar saya. “Ampun wak jo pak Sek ko, sampai ka titel beliau baca”,sebut Heri ketika itu.
Membicarakan sosok pak Achyarli, kita tidak bisa melupakan peristiwa mundurnya Muchlis Ibrahim sebagai Gubernur Sumbar.
Muchlis Ibrahim adalah pengganti Hasan Basri Durin yang telah dua periode jadi gubernur Sumbar (1987-1997). Sebelumnya Muchlis Ibrahim adalah Wakil Gubernur bersama Hasan Basri Durin pada periode kedua 1992-1997.
Pemilihan gubernur kala itu dilakukan DPRD Sumbar dan jauh jauh hari Hasan Basri Durin telah memberi sinyal yang bakal penggantinya adalah tidak jauh yakni wakilnya sendiri.
Kala itu zaman orde baru, gubernur sangat menentukan siapa yang bakal diusulkan. Usulan gubernur adalah identik dengan keinginan pemerintah pusat. Maka jadilah Muchlis Ibrahim yang prajurit itu jadi gubernur Sumbar 1992-2002 lewat pemilihan di DPRD Sumbar.
Aturan saat itu gubernur dan wakil gubernur tidak satu paket. Dipilih dulu gubernurnya baru menyusul wakil gubernur berdasarkan usulan gubernur terpilih.
Muchlis Ibrahim putra Agam itu mengusulkan Ir. Nurmawan. Memang Wagub sepertinya harus dari birokrat atau TNI.
Nurmawan yang sebelumnya Bupati Solok ditarik ke provinsi sebagai Ketua Bappeda oleh Hasan Basri Durin.
Ini sebagai kompensasi bagi Nurmawan, untuk tidak mencalonkan lagi jadi bupati Solok, karena gubernur Hasan Basri Durin inginkan Gamawan Fauzi yang sespri dan Kabiro Humas itu menjadi bupati Solok.( cerita ini, pak Rusdi lebih banyak tahu, karena beliau Sekda Solok dengan bupatinya Ir.Nurmawan.
Kembali pada pak Muchlis Ibrahim yang usulannya untuk menjadikan Nurmawan sebagai Wagub tidak mendapat rekomendasi DPRD maka Ia mulai sadar bahwa antara Dia dengan lembaga di daerah tidak sejalan dan seirama.
Terlebih lagi pemerintah pusat yang kalan itu Mendagri Ad interim Syarwan Hamid menyetujui rekomendasi DPRD yang bukan usulan gubernur. Sysrwan ditunjuk menjadi Mendagri karena Mendagri Hari Sabarno melaksanakan ibadah haji (40 hari).
Inilah puncak amarah Muchlis Ibrahim terhadap permainan politik yang katanya adalah kotor dalam pemerintahan baik pusat maupun di daerah.
“Kan lucu, pemerintah pusat justeru mengangkat dan menyetujui Wakil Gubernur yang direkomendasikan oleh parlemen jalanan”, katanya saat jumpa pers; menyatakan dirinya ingin mundur sebagai gubernur Sumbar .
Sama kita ketahui bahwa Wakil Gubernur yang direkomendasikan DPRD dan disetujui pemerintah pusat adalah Zainal Bakar yang saat itu Bupati Padang Pariaman.
Sebenarnya pak Zainal Bakar adalah Sekwilda Sumbar saat duet gubernur Hasan dan Muchlis sebagai wakilnya.
Pernyataan Muchlis mundur menjadi trend topik kala itu. Sejumlah wartawan nasional berdatangan ke Sumbar. Saya secara langsung diperintahkan pak Sek untuk mendampingi pak Muchlis Ibrahim.
“Zul, dampingi pak gubernur dan segala sesuatunya lapor dan naikan nota langsung ka ambo”, ujar pak Achyarli.
Padahal secara birokrasi masih ada tiga atasan saya, yakni, kabag, kabiro dan asisten 1.
Saya sepertinya diberi tugas khusus mendampingi pak Muchlis yang sering diwawancarai wartawan.
Kata putus mundur sepertinya tidak bisa ditawar lagi, meskipun banyak masukan dan saran dari berbagai pihak.
Pak Muchlis punya prinsip hidup dan harga diri. Jika harga dirinya sudah dilecehkan orang, utamanya pemerintah pusat, tak ada istilah manut. Jabatan bukanlah segala galanya, sebut putra Tanjung Medan, Agam ini menjawab pertanyaan wartawan.
“Buat apa saya bertahan kalau,kalau pemerintah pusat saha tidak berkenan dengan dirinya. Lebih baik saya mundur. Dan keluarga-pun sudah setuju”, ujar Muchlis Ibrahim, seraya memperlihatkan surat pernyataan mundur yang ditujukan kepada Presiden RI, kala itu adalah BJ.Habibie.
Dengan pernyataan dan mengajukan surat mundur, bukan otomatis pak Muchlis meninggalkan rumah bagonjong. Ia tetap bertugas sampai ada surat persetujuan presiden beberapa bulan kemudian.
Kembali pada pak Zainal Bakar, beliau dilantik di Departemen Dalam Negeri,Jakarta oleh Mendagri Hari Sabarno. Namun pelantikan ini tanpa dihadiri gubernur Muchlis Ibrahim.
Usai pelantikan apakah pak Zainal melapor kepada pak gubernur Muchlis Ibrahim, memang tidak saya ketahui. Bisa iya, bisa tidak. Tapi humas tidak punya dokumentasi itu.
Pendek cerita, begitu surat mundur pak Muchlis disetujui presiden, maka secara otomatis Wakil gubernur ditunjuk menjadi gubernur dan tentu diadakan pelantikan di gedung DPRD Sumbar.
Pak Achyarli masih Sekwilda dan kemudian baru diproses widyiasuaranya pada Diklat Provinsi Sumbar sampai beliau pensiun.
Begitu beliau pensiun, saya jarang ketemu dengan beliau. Dan kabar dari koleka, beliau masuk jemaah tablig akbar yang masjidnya di Pasar Mudik, kota Padang.
Beliau berjenggot tapi tidak pakai celana seperti jemaah yang lain.
Setahu saya beliau adalah sosok yang berkata benar berjalan lurus. Sehingga waktu beliau dipercaya menjadi Kepala Inspektorat Sumbar, banyak orang takut sama beliau yang ingin meluruskan segala ketimpangan dan penyimpangan.
Salah satu buah tangannya adalah menertibkan sistem penerimaan pegawai. Tidak boleh ada main belakang lagi. Berdasarkan temuan staf beliau, banyak pegawai biro kepegawaian dapat peringatan dan bahkan ada yang berhenti dengan tidak hormat.
Almarhum semasa masih aktif cukup banyak menempati jabatan strategis di Sumbar;Diawali sebagai Sekda Agam, Wako Pdg Panjang, Kabiro Binsos,Ka. Itwilprov Sumbar, setelah itu menjabat Sekdaprov. Sumbar dan terakhir Widyaiswara Prov. Sumbar.
Itulah sekelumit kenangan saya dengan pak Achyarli, yang pagi itu saya hanya mendapat info dari status Da IKA di WA grup, beliau telah meninggal karena menderita stroke.
Jumat, pagi 23 oktober 2020 beliau dibawa ke Taluak, Sungai Pua, Agam kampung kelahirannya. Disitulah peristirahatan beliau yang terakhir. Selamat jalan pak Achyarli, jasamu pasti dikenang karena kejujuran-mu.**
