SEMANGATNEWS, PAYAKUMBUH-Tahun 2021, Perumda Tirta Sago Kota Payakumbuh, melaksanakan Program Hibah Air Minum MBR 2022 dari Pemerintah Pusat untuk 500 sambungan rumah (SR). Untuk itu, PDAM sudah menyurati kelurahan – kelurahan untuk program itu.
Namun, meski program dari pemerintah pusat itu cukup bagus dan akan membantu warga miskin yang belum memiliki akses air bersih. efektivitas program itu dipertanyakan sejumlah warga. Mereka meragukan kemampuan PDAM dalam memberikan pelayanan terhadap pelanggan yang sampai kini sudah ada.
Sebab, selama ini distribusi air bersih belum lancat dan ada beberapa wilayah yang bisa mengakses air itu dalam waktu tertentu.
Salah seorang warga yang tinggal di Jalan M. Syafi’i Kelurahn Koto Tangah Kecamatan Payakumbuh Barat, Ivan mengatakan,di tempat dia tinggal air PDAM baru mengalir pada pukul 21.00 WIB. Kondisi itu juga sudah dilaporkan kepada Perumda Air Minum Tirta Sago, namun sampai kini belum ada tanggapan.
“Kami termasuk konsumen yang sudah komplain tentang hal ini. Tapi tetap saja suply air berhenti mulai pukul 06.00 WIB pagi dan baru kembali mengalir pada pukul 21.00 WIB. Kami memang bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi,” kata dia, Rabu 9 Juni 2021.
Belum lancarnya aliran air bersih di sejumlah wilayah di Kota Payakumbuh juga diakui Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Sago, Khairul Ikhwan mengakui bahwa distribusi air ke rumah-rumah pelanggan belum sepenuhnya lancar karena berbagai alasan dikarenakan kesembrautan jaringan, interkoneksi, dan jaringan pipa yang sudah tua.
“Hal itu membuat tidak maksimal serapan air dari sumber. Contoh dari Batang Tabik, kapasitanya 1.200 liter perdetik tapi kita hanya bisa mengambil 80 liter perdetik,” katanya didampingi Kepala Bagian Hubungan Langganan Perumda Air Minum Tirta Sago, Syharizal.
Untuk membenahi sejumlah permasalahan itu, pihaknya saat ini tengah melakukan evaluasi jaringan dan menjalin kerja sama dengan tim AKATIRTA Magelang.
“Kerja samanya itu enam bulan. Untuk analisa diperkirakan baru selesai pada akhir tahun ini. Sementara fisik kemunngkinan baru dapat dilaksanakan pada 2023, jadi baru dapat dirasakan manfaatnya,” tambahnya.
Meski pembenahan jaringan baru akan dapat dirasakan manfaatnya pada 2023 nanti, pihak Perumda Air Minum Tirta Sago tetap yakin bahwa penambahan 500 pelanggan lewat program MBR akan tetap terfasilitasi dengan memaksimalkan tiga sumber air yang sudah ada, termasuk lebih memaksimalkan serapan air dari WTP Batang Agam.
Untuk program MBR 2022 sendiri, calon pelanggan dibebaskan biaya pasang dengan dananya ditanggung pemerintah pusat. Namun untuk dapat menikmatinya, ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi calon pelanggan, seperti daya listrik sebesar 450 sampai 1.300 kva dan surat bersedia menerima program MBR.
Calon penerima program itu nantinya juga akan disurvei untuk memastikan kelayakannya menerima bantuan tersebut.
“Besaran bantuan dari pusat itu adalah Rp3 juta untuk satu SR. Jadi Rp1,5 miliar totalnya,” kata dia.
Ketidakmampuan PDAM dalam memenuhi kebutuhan air bersih pelanggannya sendiri sempat disoroti DPRD Kota Payakumbuh pada rapat Paripurna Penyampaian Pandangan Umum Fraksi atas Nota Penjelasan Wali Kota Payakumbuh Terhadap Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun 2020.
Fraksi Golkar lewat juru bicaranya, Wirman Putra mempertanyakan kinerja Perumda Air Minum Tirta Sago yang dinilai tidak mampu mengatasi kesulitan kebutuhan air bersih yang terjadi di Kota Payakumbuh.
“Terkait pelayanan PDAM Kota Payakumbuh dalam mensuplay air bersih ke rumah-rumah penduduk mengalami kekecewaan dari masyarakat. Air hanya mengalir pada waktu-waktu tertentu saja. Dan itu pun debitnya tidaklah memuaskan,” katanya beberapa waktu lalu. (ARYA)
