Jakarta, Semangatnews.com – Menjaga kesehatan kulit selama bulan puasa menjadi perhatian banyak orang karena perubahan pola makan dan minum yang otomatis terjadi saat beribadah. Para ahli mengingatkan bahwa salah satu kunci utama untuk kulit tetap sehat adalah asupan cairan yang cukup saat berbuka dan sahur, karena tubuh tidak menerima air sepanjang siang hari saat berpuasa.
Menurut para pakar kulit, kekurangan cairan dapat dengan cepat terlihat pada kulit sebagai tanda-tanda seperti kekeringan, kusam, bahkan elastisitas kulit yang menurun. Saat tubuh dehidrasi, kulit menjadi organ yang paling cepat menunjukkan dampaknya karena kurangnya air yang tersedia untuk mempertahankan kelembapan dan fungsi barier kulit.
Pakar dermatologi menyarankan agar konsumsi air putih saat sahur dan berbuka diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan cairan harian. Misalnya, minum cukup air saat sahur agar tubuh memulai hari dengan hidrasi optimal, serta memanfaatkan waktu setelah berbuka untuk melengkapi kekosongan cairan yang terjadi sepanjang malam.
Selain itu, pemilihan menu sahur dan berbuka yang tepat juga bisa membantu menjaga kesehatan kulit. Mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang tinggi kandungan air seperti semangka, timun, dan jeruk merupakan cara alami menambah hidrasi kulit dari dalam tubuh.
Para ahli juga menekankan pentingnya pola tidur yang cukup karena kurang tidur dapat memperburuk kondisi kulit saat berpuasa. Waktu tidur yang ideal membantu proses regenerasi kulit saat tubuh beristirahat, sehingga kulit lebih siap menghadapi puasa panjang di siang hari.
Dalam hal perawatan dari luar, memilih produk skincare yang tepat juga menjadi bagian dari strategi menjaga kulit tetap sehat. Saat puasa, kulit rentan kehilangan kelembapan sehingga penggunaan pelembap dengan kandungan humektan seperti hyaluronic acid atau ceramide dapat membantu mengunci hidrasi pada lapisan kulit.
Sebagai tambahan, ahli menyoroti bahwa penggunaan sunscreen tetap penting meskipun berpuasa. Paparan sinar matahari tetap bisa merusak kulit dan mempercepat penguapan cairan dari kulit sehingga perlindungan terhadap UV harus tetap dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit.
Mengurangi frekuensi eksfoliasi dan penggunaan bahan aktif seperti retinol selama puasa juga dianjurkan, karena kulit yang dehidrasi cenderung lebih sensitif. Menurunkan intensitas perawatan aktif sementara membantu menjaga barier kulit agar tidak mudah iritasi.
Bagi banyak orang, perubahan pola hidup selama puasa bisa memicu kulit tampak lebih lelah atau kurang bercahaya. Namun dengan asupan cairan yang cukup, pola makan seimbang, dan rutinitas perawatan kulit yang sesuai, kondisi ini dapat dicegah atau diminimalkan.
Terlepas dari perbedaan tipe kulit setiap individu, prinsip hidrasi dan nutrisi sehat tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga fungsi kulit sebagai pertahanan tubuh paling luar. Kulit yang terhidrasi dengan baik tidak hanya terlihat lebih segar, tetapi juga lebih kuat dalam melawan iritasi dan masalah kulit lainnya selama puasa.
Sebagian pakar juga menyarankan untuk tidak mengandalkan hanya satu jenis skincare atau rutinitas perawatan, melainkan memadukan pendekatan dari dalam dan luar. Ini mencakup konsumsi air yang cukup, makanan sehat saat sahur dan berbuka, serta penggunaan produk skincare yang mendukung hidrasi kulit.
Dengan perencanaan hidrasi yang baik dan kesadaran terhadap asupan nutrisi serta perawatan kulit yang tepat, para pelaku puasa dapat menjaga kesehatan kulitnya sepanjang hari tanpa harus khawatir akan tanda-tanda dehidrasi atau kusam yang sering terjadi di masa Ramadan.(*)
