Jakarta, Semangatnews.com – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan dengan tegas bahwa perjalanan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, bersama Timnas Indonesia telah usai dan tidak akan dilanjutkan. Pernyataan tersebut muncul dalam jumpa pers hari ini ketika ia dimintai tanggapan terkait kabar kembalinya Shin ke kursi pelatih utama.
Erick mengatakan bahwa pihaknya sudah harus “move on” dari era Shin Tae-yong. Menurutnya, dinamika sepakbola nasional membutuhkan figur yang baru dan strategi yang berbeda, sehingga kembali menunjuk pelatih yang telah lama meninggalkan kursi utama bukanlah opsi. “Kita harus move on,” ujarnya.
Lebih jauh, Erick menyoroti bahwa pembinaan sistem sepakbola nasional tidak lagi bisa bergantung pada satu sosok saja. Ia menyebut bahwa dalam periode di mana Shin memimpin, meskipun ada kemajuan, juga terdapat kendala komunikasi antartim dan jenjang pelatih yang belum optimal.
Meski diakui bahwa Shin pernah membawa perubahan signifikan dalam skuad Timnas Indonesia terutama di tingkat usia muda, Erick menyatakan bahwa organisasi sekarang beralih fokus ke pembangunan jangka panjang dengan pelatih baru yang dipilih. Ia tidak menyebut secara spesifik siapa yang akan menggantikan namun menegaskan bahwa tim pelatih baru akan terhubung langsung dengan jenjang U-20, U-23, dan senior.
Pernyataan ini datang di tengah dorongan publik dan beberapa suporter yang masih merindukan kehadiran Shin Tae-yong, mengingat sejumlah hasil positif yang pernah diraih di bawah kepemimpinannya. Namun Erick berpendapat bahwa nostalgia tidak bisa menjadi dasar kebijakan.
Ia juga menunjukkan bahwa struktur kepelatihan yang baik adalah yang terintegrasi dari bawah hingga ke atas, bukan hanya pelatih besar di senior saja. Dalam pandangannya, kehadiran pelatih yang memahami konteks dan kultur sepakbola Indonesia lebih penting daripada nama besar semata.
Meski menolak kemungkinan kembalinya Shin, PSSI tetap menghargai kontribusi dan kerja kerasnya selama menukangi Timnas Indonesia. Erick memastikan bahwa keputusan ini bukan dilatarbelakangi oleh emosi semata, melainkan rencana strategis menuju era baru tim nasional.
Pengamat sepakbola menyambut langkah tersebut sebagai sinyal perubahan yang serius dalam manajemen PSSI. Namun mereka juga memperingatkan bahwa pilihan pelatih berikutnya harus mampu menjawab tantangan besar seperti target kualifikasi Piala Asia atau Piala Dunia yang semakin dekat.
Bagi suporter dan masyarakat sepakbola, apa yang disampaikan Erick menjadi panggilan bahwa harapan dan aspirasi terhadap Timnas Indonesia berada di era baru. Tugas berat kini menanti apakah sistem yang dibangun bisa menghasilkan prestasi dan bukan hanya pergantian nama pelatih.(*)
