Erizal: Menangis Saat Menulis Tulisan Ini

by -

Erizal: Menangis Saat Menulis Tulisan Ini

SEMANGATNEWS.COM. – Ini puasa hari ke-4, dan ke-5 bagi yang mengikuti fatwa Muhammadiyah. Kadang, kami ikuti juga fatwanya Muhammadiyah, kadang ikuti saja hasil sidang “Isbat” MUI.

Anak-anak protes juga. Kita ikuti yang enaknya saja. Kalau Idul Fitri Muhammaddiyah cepat, kita ikuti. Tapi giliran puasanya cepat, kita malah ikuti hasil sidang “Isbat”?

Tidak juga. Ini karena posisi hilal setelah kami ikuti terlalu di bawah. Minus. Kalau agak di atas, 2 derajat misalnya, kita akan ikuti juga cepat puasa. Tapi kali ini, puasanya akan sama-sama 30 hari, kata saya.

Awal dan akhir akan berbeda.

Puasa kali ini, berat bagi saya pribadi. Puasa pertama, dada rasanya sesak. Sulit bernafas. Sulit bersendawa. Sendawa saya seperti tertahan di dada. Tidur pun sulit, entah kenapa?

Saat satu sendawa keluar, rasanya enak sekali. Tapi sendawa berikutnya tertahan lagi dan baru keluar, sekitar satu jam berikutnya. Pokoknya, betul-betul tersiksa. Sulit bernafas.

Tidur saja sulit, apalagi shalat, dan aktivitas ibadah lainnya. Tapi saya berusaha untuk tidak meninggalkan aktivitas seperti tilawah, baca buku, bikin tulisan seperti biasanya.

Saya banyak berjalan, mondar-mandir di sekitar rumah. Dan menjelang berbuka puasa, jalan sekitar 30 menit di sekitar komplek. Dalam keadaan sulit bernafas karena sendawa seperti menumpuk di dada itu.

Kata istri saya, yang membuka google penyebabnya karena stres, makan terlalu cepat menelan, tak dikunyah agak lama. Saya membenarkan yang terakhir saja. Makan terlalu cepat menelan. Kalau stres, apa lagi yang harus distreskan dalam usia setengah abad ini?

Saya putuskan saja tak makan nasi, setelah berbuka puasa. Baik sebelum tarawih maupun setelah tarawih. Makan nasi saat sahur saja. Agak membantu memang, tapi tak serta merta menghilangkan.

Alhamdulillah, pagi ini terasa plong. Sendawa yang menumpuk di dada seperti sudah keluar semuanya. Tadi usai Subuh sempat menangis mendengar kisah Bilal bin Rabbah, yang meninggalkan kota Madinah, setelah Rasulullah wafat.

Ceritanya, saat kembali ke kota Madinah, saat itu Khalifahnya adalah Umar bin Khattab. Bilal didatangi cucu Rasulullah, Hasan dan Husein, agar kembali mengumandangkan azan seperti saat Rasulullah masih hidup.

Permintaan kedua cucu Rasulullah itu, tak langsung dikabulkan Bilal. Setelah Umar bin Khattab mengetahui kedatangan Bilal, maka Umar meminta Bilal kembali mengumandangkan azan seperti dulu, dan Bilal tak bisa lagi menolak.

Saat Bilal mengumandangkan azan, kota Madinah seperti sepi dan khusyuk mendengarkan azan Bilal yang legendaris itu. Bukan suara Bilalnya, tapi ingat bersama Rasulullah-nya.

Pada saat kalimat, Asyhadu anna Muhammadarrasulullah (أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّٰهِ), suara Bilal tercekat dan ia menangis.

Bilal terus saja menangis dan tak bisa lagi meneruskan azannya. Penduduk kota Madinah pun ikut menangis.

Dan entah kenapa, saya pun ikut menangis mendengar kisah Bilal itu. Menangis karena mengingat Rasulullah SAW……Shollu ‘Alannabi…

Dan Alhamdulillah, setelah menangis mengingat Rasulullah SAW, entah kenapa, dada saya yang sesak selama 4 hari ini, tiba-tiba saja plong dan seperti kembali pada kondisi sebelumnya. Alhamdulillah….

Bahkan saya menangis saat membuat tulisan ini…..Shollu ‘Alannabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.