Jakarta, Semangatnews.com – Situasi mencekam terjadi di Gedung Senat Filipina ketika aparat mencoba menangkap Senator Ronald Dela Rosa yang menjadi target surat perintah Mahkamah Pidana Internasional atau ICC. Upaya penangkapan itu memicu kepanikan dan ketegangan besar di kompleks parlemen Manila.
Ronald Dela Rosa merupakan mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina pada era Presiden Rodrigo Duterte. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam perang melawan narkoba yang kontroversial dan menewaskan ribuan orang.
ICC menuduh Dela Rosa terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan terkait operasi anti-narkoba yang berlangsung pada 2016 hingga 2018. Surat perintah penangkapan terhadapnya disebut sudah diterbitkan secara rahasia sejak tahun lalu sebelum akhirnya diumumkan ke publik.
Saat aparat mendatangi Gedung Senat, Dela Rosa disebut berlindung di dalam kompleks parlemen di bawah perlindungan sejumlah sekutunya. Ketegangan meningkat ketika petugas keamanan Senat menolak akses aparat penegak hukum yang ingin mengeksekusi penangkapan.
Laporan media internasional menyebut sempat terdengar suara tembakan dan terjadi aksi kejar-kejaran di area Senat Filipina. Insiden itu membuat situasi berubah kacau dan memicu kepanikan di dalam gedung.
Dalam perkembangan terbaru, Dela Rosa dilaporkan berhasil meninggalkan Gedung Senat sebelum aparat berhasil menangkapnya. Hingga kini keberadaannya masih belum diketahui secara pasti.
Pemerintah Filipina melalui Menteri Kehakiman Fredderick Vida menegaskan negara akan tetap mematuhi permintaan ICC jika proses hukum disampaikan melalui jalur resmi. Pemerintah juga memperingatkan bahwa upaya melarikan diri akan dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap hukum.
Kasus ini semakin memperuncing ketegangan politik antara kubu Presiden Ferdinand Marcos Jr dan keluarga Duterte. Putri Duterte, Sara Duterte, juga tengah menghadapi tekanan politik dan proses pemakzulan di parlemen.
Rodrigo Duterte sendiri saat ini telah berada dalam tahanan ICC di Den Haag setelah ditangkap pada 2025 terkait kasus yang sama. Pengadilan internasional telah memastikan mantan Presiden Filipina itu akan menjalani proses persidangan atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Insiden di Gedung Senat Filipina menjadi perhatian dunia internasional karena memperlihatkan besarnya konflik politik dan hukum yang sedang terjadi di negara tersebut. Banyak pihak khawatir ketegangan ini dapat memicu instabilitas politik lebih luas.
Sementara itu, keluarga korban perang narkoba Duterte terus mendesak agar semua pihak yang terlibat diproses secara hukum. Mereka berharap ICC mampu menghadirkan keadilan atas ribuan kematian yang terjadi selama operasi anti-narkoba berlangsung.(*)

