Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (24/2/2026). Kontrak berjangka minyak Brent turun sekitar 1 persen ke level sekitar USD 70,77 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merosot sekitar 1 persen ke zona USD 65-66 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pernyataan dari pemerintah Iran yang menyatakan kesediaannya untuk mengambil langkah apa pun demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait perundingan nuklir yang akan digelar di Jenewa.
Pernyataan Iran tersebut menciptakan harapan pasar akan meredanya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi faktor utama mendongkrak harga minyak. Iran yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dipandang memiliki pengaruh besar terhadap pasokan global, sehingga setiap isyarat diplomatik berpotensi memengaruhi pasar komoditas energi.
Iran dan AS direncanakan akan menggelar putaran ketiga perundingan di Jenewa pada Kamis mendatang, yang menurut pejabat Oman akan menjadi pembicaraan penting dalam mencoba meredakan ketegangan yang berlangsung berbulan-bulan terakhir. Langkah ini menunjukkan bahwa kedua negara masih membuka ruang diplomasi meskipun sebelumnya hubungan kedua pihak sempat berada di titik paling tegang.
Harga minyak sempat mencapai level tertinggi tujuh bulan dalam beberapa sesi terakhir karena meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik regional. Namun, kabar tentang kesiapan Iran untuk dialog ulang membuat sentimen risiko memudar dan memicu koreksi harga.
Selain faktor geopolitik, data stok minyak AS juga turut menjadi sorotan para pelaku pasar. Laporan sementara menunjukkan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat naik secara signifikan, yang memberikan tekanan tambahan pada harga karena menunjukkan adanya pasokan berlebih dalam waktu dekat.
Bank global UBS memperkirakan bahwa harga minyak dunia akan cenderung turun moderat dalam beberapa pekan ke depan selama tidak terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah. Pandangan ini diperkuat oleh fakta bahwa investor kini mulai mempertimbangkan kemungkinan pengurangan risiko geopolitik jika perundingan AS–Iran menunjukkan hasil yang positif.
Meski begitu, premi risiko geopolitik sebesar USD 3-4 per barel tetap terhitung dalam harga minyak mentah AS, mencerminkan adanya kekhawatiran berkelanjutan terhadap faktor ketidakpastian di kawasan. Premi ini muncul karena investor masih waspada terhadap potensi gangguan pasokan jika diplomasi gagal.
Pergerakan harga minyak yang turun ini berdampak pada komoditas energi lainnya serta mata uang negara eksportir minyak. Nilai tukar beberapa mata uang dari negara penghasil minyak mulai mengalami volatilitas seiring pasar mengantisipasi dampak dari potensi kesepakatan diplomatik.
Sementara itu, pasar saham energi di bursa global juga merespons turun-naiknya harga minyak dengan fluktuasi yang cukup signifikan, terutama saham perusahaan minyak besar yang terkait langsung dengan permintaan dan pasokan crude.
Dinamika di pasar minyak dunia ini juga mempertegas betapa sensitifnya harga terhadap perkembangan geopolitik global; bukan hanya soal produksi dan pasokan, tetapi persepsi investor terhadap risiko konflik serta kemungkinan perbaikan hubungan antarnegara besar seperti AS dan Iran.
Seiring dengan ketidakpastian diplomasi, analis pasar energi memperkirakan bahwa pelaku pasar akan terus mengetatkan posisi trading mereka menjelang putaran perundingan di Jenewa, sehingga harga minyak diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan.
Dengan berbagai faktor yang saling bertumpuk, dari peningkatan stok minyak hingga diplomasi yang berpotensi memperbaiki hubungan Iran–AS, warna baru pasar energi global diperkirakan akan tetap menjadi fokus utama investor dalam jangka pendek.(*)
