Iran Bantah Tuduhan Trump Soal Pengembangan Rudal Capai AS: ‘Dusta Besar!’

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran tengah mengembangkan rudal yang bisa mencapai wilayah Amerika Serikat. Pernyataan Trump disampaikan dalam pidato kenegaraannya yang menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Iran, yang menyebut klaim itu sebagai “dusta besar”.

Trump menyatakan dalam pidatonya bahwa Iran tidak hanya sudah memiliki rudal yang mampu mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri, tetapi juga sedang berupaya membuat senjata yang bisa mencapai daratan Amerika. Ia menekankan ancaman tersebut sebagai bagian dari tekanan lebih luas terhadap program rudal dan nuklir Iran.

Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Juru bicara kementerian, Esmaeil Baqaei, melalui akun X menegaskan bahwa tuduhan Trump mengenai program rudal balistik negara itu merupakan kebohongan yang diulang-ulang oleh AS. Ia menyebut semua tuduhan tentang rudal, program nuklir, hingga jumlah korban dalam kerusuhan domestik sebagai “dusta besar”.

Baqaei tidak secara terperinci menunjukkan bagian mana dari pernyataan Trump yang dibantah, tetapi respons resmi Teheran ini mencerminkan ketegangan diplomatik yang terus berlangsung antara kedua negara. Iran menegaskan bahwa jika ada ancaman, mereka hanya akan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah jika diserang, bukan daratan AS.

Klaim Trump mengenai kemampuan rudal Iran ini sebenarnya berasal dari laporan intelijen sebelumnya yang mengatakan bahwa jika Tehran memutuskan untuk mengejar teknologi rudal balistik antarbenua, potensi itu baru bisa terealisasi dalam jangka panjang, tidak secara langsung saat ini. Laporan resmi tersebut tidak menyimpulkan bahwa Iran benar-benar sudah mengembangkan senjata semacam itu.

Teheran sendiri memiliki rudal balistik jarak pendek dan menengah yang bisa menjangkau sejumlah negara di kawasan, tetapi otoritas Iran selalu menyatakan bahwa programnya bersifat defensif dan tidak ditujukan untuk menyerang Amerika atau sekutunya. Pernyataan ini ditekankan dalam tanggapan diplomatik mereka atas tuduhan AS.

Isu ini muncul di tengah negosiasi penting antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlanjut di Jenewa, Swiss. Putaran ketiga pembicaraan ini difokuskan pada upaya mencapai kesepakatan yang mengakhiri ketegangan terkait program nuklir Teheran setelah perjanjian sebelumnya dibatalkan.

Washington telah menempatkan kekuatan militer besar di kawasan Timur Tengah selama beberapa pekan terakhir, termasuk pengerahan kelompok kapal induk dan pesawat tempur, yang menunjukkan kesiapan AS untuk mengambil tindakan militer jika negosiasi gagal. Sementara itu, Iran menegaskan komitmennya tetap pada dialog diplomatik asalkan dilakukan dengan saling menghormati.

Pernyataan keras Trump ini mendapat kritik dari beberapa kalangan di dalam negeri AS sendiri, termasuk anggota parlemen yang meragukan perlunya eskalasi militer dan lebih mendukung jalur diplomasi. Namun Trump tetap mempertahankan posisi bahwa ia tidak akan membiarkan Iran, yang ia sebut sebagai “sponsor terorisme nomor satu dunia”, mendapatkan senjata nuklir atau rudal jarak jauh.

Respons dari Iran menunjukkan bahwa kedua negara kini berada pada titik ketidakpercayaan tinggi meskipun negosiasi sedang berlangsung. Pernyataan Baqaei menyingkap bahwa Tehran siap menolak tuduhan yang dianggap sebagai upaya AS membenarkan tekanan atau intervensi lebih lanjut.

Para pengamat mengatakan bahwa retorika seperti ini sering menjadi bagian dari strategi politik dalam negeri AS, terutama menjelang pemilihan dan saat ingin menunjukkan sikap kuat terhadap rival geopolitik. Namun, pemberitaan klaim militer dapat memperumit upaya diplomasi yang sedang berjalan.

Dengan pertukaran tuduhan dan bantahan yang terus berlanjut, ketegangan Iran–AS tetap menjadi sorotan utama dunia internasional, terutama karena dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global masih sangat besar, serta potensi eskalasi konflik tetap menghantui proses diplomasi kedua negara.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.