Jakarta, Semangatnews.com – Jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap wilayah Iran terus meningkat secara signifikan di tengah eskalasi konflik yang meluas di Timur Tengah. Pejabat Iran melaporkan ratusan warga tewas akibat serangan udara dan rudal dari kedua negara tersebut, yang telah melanda berbagai kota di Iran sejak akhir Februari 2026.
Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, hingga Rabu malam waktu setempat angka korban tewas telah mencapai 867 orang akibat serangan udara dan tembakan militer yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan itu juga mencatat ribuan lainnya terluka, dengan banyak di antaranya masih dirawat di rumah sakit di berbagai wilayah negara.
Kermanpour menuturkan sebagian besar korban adalah warga sipil yang menjadi sasaran serangan di kawasan pemukiman dan fasilitas umum, termasuk sekolah dasar di kota Minab yang menjadi salah satu tragedi paling memilukan sepanjang konflik ini. Di lokasi tersebut, ratusan siswa dan guru dilaporkan tewas, meninggalkan luka mendalam di kalangan masyarakat Iran.
Selain korban dewasa, terdapat pula banyak anak yang menjadi bagian dari statistik korban, menunjukkan betapa luas dan berdampaknya konflik ini terhadap kehidupan keluarga dan komunitas di Iran. Juru bicara kementerian kesehatan juga menggambarkan suasana duka yang melanda seluruh provinsi akibat meningkatnya jumlah korban.
Serangan yang dimulai pada akhir Februari ini dilaporkan meluas dari ibu kota Teheran hingga ke kota-kota lainnya di seluruh negeri, termasuk wilayah provinsi besar seperti Isfahan. Target serangan mencakup fasilitas militer, infrastruktur negara, serta lokasi yang dikaitkan dengan garnisun Garda Revolusi Iran.
Dampak serangan tersebut bukan hanya dirasakan secara lokal. Dalam beberapa laporan global disebutkan bahwa keterlibatan gugus tugas AS bersama Israel dalam melakukan serangan memiliki skala yang lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya, dengan ratusan target di Iran disebut telah menjadi sasaran peluru kendali dan serangan udara.
Kondisi ini memicu gelombang protes dan kecaman dari berbagai negara di kawasan maupun dunia internasional, yang menuntut dihentikannya serangan militer demi menghindari jatuhnya lebih banyak korban sipil. Sejumlah negara juga menyerukan agar jalur diplomasi menjadi alat utama dalam meredakan konflik.
Teheran sendiri menyatakan akan membalas serangan tersebut dengan cara yang tegas, melalui penggunaan rudal dan drone terhadap target di wilayah Israel dan negara lain yang menjadi basis militer AS di kawasan. Situasi ini semakin memperluas konflik yang semula bermula sebagai serangan terkoordinasi terhadap tempat strategis di Iran.
Banyak analis internasional menilai bahwa eskalasi ini dapat memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas jika tidak segera diatasi melalui negosiasi dan peran diplomatik PBB serta kekuatan global lainnya. Ancaman terhadap perdamaian dunia semakin nyata seiring meningkatnya jumlah korban serta kerusakan infrastruktur.
Organisasi kemanusiaan juga menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan pembatasan penggunaan kekuatan militer di kawasan yang sudah sangat rapuh, sambil mencatat dampak luas yang ditimbulkan oleh konflik yang berlangsung.
Meski demikian, baik AS maupun Israel sejauh ini belum merilis pernyataan terbaru terkait perincian jumlah korban atau perubahan strategi militer mereka terhadap Iran, sementara pertempuran di berbagai front terus berlangsung.
Dengan berlanjutnya serangan dan peningkatan angka korban, perhatian dunia kini makin terfokus pada kemungkinan diadakannya gencatan senjata dan upaya diplomasi intensif untuk mencegah meluasnya konflik yang berpotensi membawa dampak kemanusiaan yang jauh lebih besar.(*)

