Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Emmanuel Macron menyampaikan kecaman keras terhadap invasi yang dilancarkan Vladimir Putin ke Ukraina, yang kini memasuki empat tahun sejak dimulai pada 24 Februari 2022. Dalam pernyataannya, ia menyebut konflik itu sebagai “tiga kali kegagalan” bagi Moskow — secara militer, ekonomi, dan strategis.
Pernyataan Macron itu disampaikan melalui unggahan di platform X pada Selasa, menandai empat tahun sejak perang dimulai. Ia menegaskan bahwa tujuan awal Kremlin untuk menaklukkan Ukraina dalam waktu singkat tidak pernah tercapai.
Menurut Macron, meski harapan awal Moskow adalah kemenangan cepat, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ukraina berhasil mempertahankan wilayahnya, dan sebagian wilayah yang sebelumnya dikuasai Rusia bahkan berhasil direbut kembali oleh pasukan Kyiv.
Macron menyebut konflik ini sebagai kegagalan militer karena strategi dan tujuan Rusia tidak tercapai, sementara pasukan Ukraina tetap bertahan di garis depan. Ia juga menilai perang ini merupakan kegagalan ekonomi, karena tekanan sanksi yang luas telah memukul ekonomi Rusia secara signifikan.
Selain itu, perang itu disebutnya sebagai kegagalan strategis karena imperium yang ingin dibangun Moskow justru memperkuat solidaritas negara-negara Barat dan memperkuat aliansi seperti NATO yang semula ingin dilemahkan oleh Rusia.
Pernyataan itu juga menyoroti tingginya biaya kemanusiaan dan korban jiwa akibat perang. Macron menyebutkan ratusan ribu nyawa telah hilang dan kehidupan jutaan warga Ukraina hancur dalam empat tahun terakhir konflik tersebut.
Ia menekankan bahwa perang telah memperlihatkan betapa konflik ini tidak hanya berdampak pada Ukraina dan Rusia saja, tetapi telah mengguncang tatanan keamanan dan politik di Eropa serta dunia. Tekanan serta tantangan global muncul dari ketidakpastian politik dan keamanan yang terus berlangsung di kawasan.
Macron kembali menegaskan komitmen Prancis dan sekutu Eropa untuk terus mendukung Ukraina, baik secara militer maupun ekonomi, hingga perdamaian yang adil dapat dicapai. Ia menyatakan bahwa dukungan itu bukan hanya untuk Ukraina, tetapi juga untuk keamanan dan stabilitas Eropa secara keseluruhan.
Perdana menteri dan pejabat lain dari negara-negara anggota Uni Eropa juga hadir di Kyiv atau ikut menyampaikan dukungan mereka, menunjukkan solidaritas yang kuat pada peringatan empat tahun invasi tersebut.
Kritikus kebijakan Moskow menunjukkan bahwa meskipun Rusia awalnya berharap bisa mengalahkan Ukraina dengan cepat, justru kebuntuan di medan perang menunjukkan betapa invasi tersebut menjadi konflik berkepanjangan yang melemahkan posisi global Rusia.
Dalam pidatonya, Macron juga menegaskan pentingnya terus memberikan tekanan sanksi dan bantuan kepada Ukraina agar negara itu tetap bisa mempertahankan diri dan pada akhirnya mencapai penyelesaian damai yang menetapkan aturan hukum internasional.
Dengan perang yang memasuki tahun kelima pada 2026, pernyataan Macron mencerminkan pandangan sejumlah negara Barat bahwa invasi Rusia tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga memicu konsekuensi geopolitik yang jauh lebih kompleks di seluruh Eropa dan dunia.(*)
