Jakarta, Semangatnews.com – Memasuki musim hujan, para dokter anak menegaskan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi ancaman serius, khususnya bagi anak‑anak di bawah usia 15 tahun.
Menurut dr. Gina Noor Djalilah, Sp.A, MM, anak pada rentang usia tersebut memiliki daya tahan tubuh yang relatif lebih rendah sehingga saat terinfeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, kondisi bisa berkembang cepat dan berpotensi menjadi berat.
Dia menjelaskan bahwa gejala awal yang sering tidak disadari orang tua adalah demam tinggi yang berlangsung tiga hingga empat hari, disertai mual, muntah, sakit kepala, dan muncul ruam merah pada kulit. Dalam beberapa kasus, gejala seperti pembengkakan kelenjar getah bening juga muncul.
Dokter Gina mengingatkan bahwa jika tidak segera tertangani, DBD bisa meningkat ke tahap demam berdarah dengue dengan tanda‑tanda lebih serius seperti perdarahan spontan, sesak napas, hingga pembesaran perut akibat penumpukan cairan.
Ia menambahkan bahwa fase paling kritis adalah ketika terjadi dengue shock syndrome (DSS) di mana tekanan darah turun drastis dan dapat menyebabkan kegagalan organ jika penanganan terlambat. Hal ini semakin menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan segera.
Dalam suasana musim hujan, populasi nyamuk dan tempat berkembang‑biaknya seperti genangan air, talang tersumbat, dan barang bekas yang menampung air menjadi sangat banyak. Karena itu, orang tua dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan.
Upaya pencegahan yang disarankan termasuk memastikan anak cukup asupan cairan, konsumsi makanan bergizi, suplemen jika diperlukan, serta memperkuat daya tahan tubuh anak agar bila terjadi infeksi, anak memiliki posisi yang lebih kuat untuk melawan virus.
Dokter Gina juga mengingatkan orang tua agar segera membawa anak ke layanan kesehatan apabila demam tinggi tidak turun setelah beberapa hari atau muncul gejala seperti mimisan, gusi berdarah, atau tubuh anak sangat lemas. Waktu ’emas’ untuk penanganan sangat krusial.
Sekolah dan lingkungan rumah juga diminta agar aktif melakukan pengasapan, pemberantasan jentik nyamuk, serta menjaga kebersihan talang dan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Karena anak pada masa sekolah sering berada di luar rumah, risiko penularan meningkat.
Para orang tua yang tinggal di daerah endemik DBD atau daerah dengan drainase kurang baik di musim hujan diimbau agar lebih waspada dan melakukan komunikasi rutin dengan guru sekolah atau posyandu mengenai kondisi lingkungan sekolah dan rumah.
Dengan kondisi seperti ini, musim hujan bukan hanya membawa hujan dan badai, tetapi juga membawa tantangan kesehatan serius bagi anak‑anak. Kesadaran dan tindakan cepat dari orang tua menjadi penentu utama agar risiko DBD pada anak dapat dikendalikan.(*)
