Jakarta, Semangatnews.com – Kelompok paramiliter RSF akhirnya berhasil menguasai kota El‑Fasher setelah pengepungan berdarah selama lebih dari 18 bulan, dan sejak pengambilalihan itu muncul bukti‑bukti pembantaian massal yang memunculkan kekhawatiran akan genosida baru.
Analisis citra satelit beserta investigasi lapangan mengungkap bahwa ribuan mayat berserakan di lokasi‑lokasi yang sebelumnya kosong, dan pola kematian serta penghilangan warga sipil dari suku non‑Arab seperti Fur, Zaghawa dan Berti sangat mirip dengan kampanye pembersihan etnis yang pernah terjadi di Darfur.
Lembaga hak asasi menguak bahwa RSF melakukan eksekusi sistematis terhadap pria dewasa, penahanan massa, pembakaran rumah dan fasilitas kesehatan, serta pemerkosaan massal terhadap perempuan – tindakan‑tindakan yang menurut beberapa pengamat bisa memenuhi syarat definisi genosida.
Pengepungan El‑Fasher membuat sekitar 1,2 juta warga terjebak tanpa pasokan pangan dan obat selama berbulan‑bulan, hingga kelaparan dan penyakit menjangkiti banyak keluarga. Ketika RSF menyerbu, sebagian besar warga tidak sempat melarikan diri karena rute evakuasi telah tertutup.
Saksi mata di kamp pengungsian Tawila mendeskripsikan bagaimana truk RSF membawa pria dewasa dari jalan‑jalan dan beberapa rumah, tanpa kejelasan nasib mereka. Banyak rumah tangga yang keluarga laki‑lakinya hilang hanya karena identitas etnis mereka.
Pemerintah Sudan telah mengajukan bahwa RSF telah melakukan kejahatan “genosida” terhadap kelompok etnis non‑Arab di Darfur dan berkelanjutan sejak konflik pecah. Pernyataan ini diperkuat oleh pengakuan United States Department of State yang menyebut tindakan RSF sebagai genosida.
Respons internasional muncul namun belum cukup cepat untuk menghentikan laju kematian. Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta akses darurat ke wilayah konflik, namun hambatan keamanan dan blokade informasi di El‑Fasher membuat investigasi sangat sulit.
Situasi kemanusiaan makin meluas: ratusan ribu orang mengungsi ke barak‑barak darurat, sebagian besar perempuan dan anak‑anak yang kehilangan kepala keluarga. Warga mengungkap bahwa malam menjadi saat paling menakutkan ketika RSF melakukan razia di jalan‑jalan kampung.
Pengamat keamanan regional memperingatkan bahwa kebijakan militer semata untuk menumpas pemberontakan tidak akan cukup; tanpa rekonsiliasi sosial dan perlindungan warga sipil, kekosongan keamanan akan segera diisi oleh tindakan kekerasan selanjutnya.
Kejadian di El‑Fasher menjadi alarm bahwa konflik internal Sudan kian mendekati titik di mana pembersihan etnis sistematis bisa terjadi secara terbuka. Dunia kini menghadapi pilihan: campur tangan lebih tegas atau menyaksikan genosida berlangsung di depan mata.(*)
