PADANG PANJANG, SEMANGATNEWS.COM – Sebanyak 15 orang pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) kota Bukittinggi melakukan pelatihan/magang kegiatan batik/ecoprint di Sanggar Canting Buana Batik, Jalan Bangdes II RT X, 69, Padang Panjang.
Kegiatan mulai 12 – 16 November 2025 tersebut merupakan bentuk pembinaan langsung bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam rangka perkuatan industri batik/ecoprint serta penumbuhan wirausaha baru di Bukittinggi sebagaimana disampaikan kepada seluruh peserta.

Plt. Dinas Perdagangan dan Perindustrian kota Bukittinggi, Herriman, SH. M.Hum kepada Semangatnews.com, Rabu, (12/11/2025) menyebutkan kegiatan pelatihan/magang pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) tersebut dimaksudkan guna meningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai pelaku industri batik dan ecoprint yang kini mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.
Sementara pimpinan Sanggar Canting Buana Batik, Widdiyanti, dosen seni kriya ISI Padang Panjang dan Instruktur batik nasional itu menyebutkan, rombongan magang/pelatihan magang selama kegiatan berlangsung diberi pelatihan Batik dan ecoprint dengan seluk beluk pembuatannya, mulai dari desain, proses pengerjaannya hingga hasil jadinya.

Peserta diperkenalkan motif motif ragam hias Minangkabau menggunakan canting dan kain serta malam.
Sementara ecoprint peserta diberi kebebasan memilih bahan bahan yang ada di alam terutama dedaunan sebagai sumber motif dan memakai larutan bahan ramah lingkungan. Hingga semua peserta benar benar memperoleh ilmu membatik dan ecoprint sehingga dapat dikembangkan di lapangan nantinya.

Di hari pertama rombongan peserta cukup antusias melakukan pelatihan batik/ecoprint pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) itu yang diprediksi hari hari berikutnya akan berlangsung lebih seru lagi. Mengingat peserta mulai serius dan ketagihan melakukan praktek langsung sesuai bahan dan alat yang dimanfaatkan seluruh peserta.
Diharapkan hingga pelatihan berakhir, diharapkan peserta memperoleh pengalaman berharga dalam dunia batik dan ecoprint hingga dapat diimplementasikan di masing masing IKM tanpa mengabaikan nilai nilai lokal yang pada gilirannya dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya usaha baru masyarakat Bukittinggi sebagai kota wisata berbasis ekonomi,” ujar Widdiyanti. (mh).
