Oleh Zulnadi/Pimpred Semangatnews
Sepekan lebih pasca pemilu, meskipun perhitungan suara belum final oleh KPU, namun sudah dapat ditebak siapa yang bakal menang untuk pilpres dan siapa puka yang bakal duduk di DPR RI, DPRD provinsi, Kabupaten dan Kota. Dari hitungan sementara di tps sudah nampak gambaran siapa peraih suara terbanyak. Dipastikan dia duduk, siapa peraih suara minim dia bakal terduduk dan bisa bisa terumuk, karena prediksi suara tak sesuai dengan harapan, janji yang diberikan pemilik suara.
Untuk pemilihan legislatif ini, mempunyai dampak tersendiri karena dipaketkan serentak dengan pilpres. Fokus utama rakyat adalah pada pilpres yang diusung sejumlah partai. Kecenderungan rakyat adalah apabila dia menentukan pilihan pada paslon presiden tertentu, maka akan diikuti dengan pilihan partai pengusungnya. Memilih personil dari calon legislatif seperti mereka abaikan saja. Pokoknya figur paslon presiden sangat menentukan.
Contoh kasus pemilu di Sumbar, orang banyak milih Capres Prabowo, maka partai pengusung dan pendukung terangkat pula jadi. Partai Gerindra,PKS,PAN,Demokrat turut terangkat lantaran Prabowo efek. Sebaliknya capres Jokowi yang petahana itu, kalah besar di Sumbar yang diikuti pula partai pengusung, PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, PKB, Hanura tidak banyak diminati rakyat.
Caleg caleg dari bermacam partai itu akan terus bersaing di internalnya sendiri untuk mendapatkan kursi. Jadi pemilu legislatif itu persaingan berlapis. Mulai dari persaingan ekternal sampai persaingan internal. Mereka akan terus berjaga jaga dan memantau penghitungan suara secara berjenjang.
Finalnya adalah pleno kpu kabupaten/kota, pleno KPU provinsi dan pleno KPU pusat.
Dari pleno inilah kita dapat memastikan siapa yang bakal duduk, siapa yang bakal terduduk dan bahkan bisa bisa terumuk, lama lama meakuk-akuk. Parahnya lagi bila sudah berbicara sendiri. Jika sudah begitu kondisinya muaranya ke Rumah Sakit Jiwa, yang sebagian sudah ada yang mendaftar dan sebagian lagi naik motor tanpa busana.
Pileg itu awalnya baik, namum apabila akhirnya tidak dapat kursi, mulai pening. Banyak yang teringat, dana habis hasil tak nampak. Katanya kawan, uang kawan dilapir juga,saat menghitung suara tak bersua.Saat kampanye dijanjikan suara sekian tak satupun ketemu. Bahkan di tps yang bersangkutan hanya mendapat 1 sampai 3 suara. Aduh iba kita.
