Jakarta, Semangatnews.com – Jakarta kembali melakukan rekayasa lalu lintas besar-besaran seiring kunjungan kenegaraan Raja Abdullah II dari Yordania. Polda Metro Jaya menutup sementara delapan ruas jalan utama di Ibu Kota untuk memastikan kelancaran pengawalan rombongan tamu negara. Kebijakan ini diterapkan secara situasional hanya saat iring-iringan melintas.
Sejumlah jalan protokol seperti Gatot Subroto, Sudirman, MH Thamrin, Merdeka Barat, HR Rasuna Said, HOS Cokroaminoto, Raya Pondok Gede, dan Mayjen Sutoyo menjadi titik utama penutupan. Jalan-jalan tersebut merupakan jalur vital pergerakan kendaraan di Jakarta, sehingga penutupannya diprediksi berdampak signifikan pada arus lalu lintas.
Polda Metro Jaya menjelaskan bahwa penutupan dilakukan dalam waktu terbatas dan akan dibuka kembali setelah rombongan Raja Yordania melewati titik tertentu. Meski begitu, waktu penutupan yang bertepatan dengan jam sibuk diperkirakan akan menimbulkan kepadatan di berbagai ruas penyangga kota.
Jadwal rekayasa lalu lintas dimulai Jumat sore pukul 16.00 WIB dan berlanjut pada Sabtu pagi sekitar pukul 10.30 WIB. Kedua jadwal tersebut menyesuaikan agenda resmi Raja Abdullah II selama berada di Jakarta untuk menjalani rangkaian pertemuan kenegaraan.
Pihak kepolisian mengingatkan bahwa penutupan jalan bersifat fleksibel. Artinya, jalan sewaktu-waktu bisa dibuka lebih cepat atau ditutup lebih lama tergantung kebutuhan di lapangan. Petugas akan mengawasi langsung situasi tiap titik untuk menghindari kemacetan yang tidak terkendali.
Kunjungan Raja Yordania ke Jakarta sendiri menjadi momen penting bagi hubungan diplomatik kedua negara. Kehormatan pengawalan tingkat tinggi ini menunjukkan besarnya penghargaan Indonesia terhadap tamu kerajaan yang sedang melaksanakan agenda bilateral.
Selama penutupan berlangsung, warga diimbau mencari rute alternatif apabila harus melintas melalui jalur protokol. Pengendara yang biasanya bekerja atau beraktivitas di pusat kota disarankan untuk mengatur ulang jadwal perjalanan agar tidak terjebak dalam kemacetan panjang.
Sementara itu, sejumlah ruas penyangga seperti Jalan Dr. Satrio, Kramat Raya, dan sebagian MT Haryono mulai mencatat lonjakan kendaraan karena dijadikan jalur alternatif oleh para pengemudi. Kepadatan ini terlihat terutama pada jam pulang kerja.
Petugas kepolisian bersama dinas perhubungan diterjunkan untuk mengatur lalu lintas di persimpangan-persimpangan rawan. Pengaturan secara manual dilakukan untuk memastikan arus kendaraan tetap bergerak meski volume kendaraan meningkat.
Pengguna jalan berharap rekayasa lalu lintas dilakukan secara tepat waktu dan tidak berkepanjangan. Sejumlah pengendara mengaku telah menyesuaikan kegiatan mereka agar terhindar dari penumpukan kendaraan di area terdampak.
Meski sempat menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian warga, langkah pengawalan ini dipahami sebagai bagian penting dari tugas negara dalam menyambut pemimpin asing. Penutupan delapan ruas jalan menjadi simbol kesiapan Jakarta dalam menyelenggarakan acara kenegaraan berskala besar.(*)
