Praktisi Juga Butuh Teori

by -

Oleh : Arianto, S.Sos, Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

SEMANGATNEWS.COM – Tak sedikit suara yang mengatakan kebutuhan teori sangat penting bagi seorang praktisi. Teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang didefinisikan sebagai “menentukan” bagaimana, mengapa variabel-variabel, dan pernyataan-pernyataan yang saling berhubungan (Labovitz dan Hagedorn). Oleh sebab itu, seorang praktisi tidak bisa mengandalkan ilmu dari pengalaman yang didapatkan saat berinteraksi oleh makhluk sosial, dan minimnya teori membuat para praktisi kewalahan dalam melakukan kegiatan.

Sempitnya pengetahuan tentang teori dalam diri seorang praktisi membuat tidak efisiensi dalam melakukan pekerjaannya sendiri. Karena saat berinteraksi dengan manusia lain, banyak pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang praktisi. Seorang praktisi harus memahami teori jika menginginkan pekerjaannya berjalan dengan efisien.

Pengalaman dan pengetahuan yang tinggi akan membuat berjalan komunikasi yang efektif. Sehingga dapat dikatakan dengan pengetahuan yang tinggi tentang teori-teori akan menyempurnakan pendekatan dengan narasumber di lapangan.

Pendekatan yang dilakukan oleh seorang praktisi dalam berinteraksi antara sesama makhluk ciptaan-Nya adalah dengan komunikasi. Sebab, komunikasi merupakan salah satu dari kegiatan manusia sehari-hari yang berhubungan dengan semua kehidupan kemanusiaan. Dengan berkembangnya sebuah pemahaman mengenai keragaman teori komunikasi, akan memudahkan membuat perbedaan dalam interpretasi mengenai komunikasi, dan bisa mendapatkan alat bantu untuk meningkatkan komunikasi, dan bisa memahami ilmu komunikasi lebih baik.

Memahami teori komunikasi akan memudahkan untuk melihat hal-hal yang belum pernah dirasakan, dan juga bisa melihat yang tidak dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Pelebaran persepsi ini dapat memungkinkan keluar dari cara berfikir yang biasa serta menyesuaikan diri, fleksibel, dan canggih dalam pendekatan terhadap komunikasi.

Begitu juga dalam mencapai suatu keberhasilan, tanpa teori tidak menutup kemungkinan keberhasilan seorang praktisi, tetapi dengan pengetahuan tentang teori yang tinggi seorang praktisi akan cenderung mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, di dunia pekerjaan ada dua golongan yang cenderung digunakan manusia dalam meraih karier, menjadi seorang praktisi atau menjadi akademisi. Padahal, keduanya saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan, karena seorang akademisi berusaha memunculkan teori dalam melakukan sesuatu, dan teori tersebut digunakan dan dipakai untuk mencari kebenaran oleh seorang praktisi.

Dalam menguji kebenaran teori tersebut, tidak semuanya teori yang diungkapkan oleh seorang akademisi sesuai dengan kenyataan. Tetapi, tidak menutup kemungkinan teori tersebut tidak dipakai di lapangan. Hanya saja banyak pengetahuan baru yang didapat dari pengalaman dan pembelajaran dari masyarakat luar.

Keabsahan teori tersebut tidak mutlak, begitu juga dengan kepribadian yang dipakai oleh praktisi dan akademisi. Praktisi cenderung menjalankan pekerjaan dengan terstruktur dan langkah-langkah baku, selalu formal dalam penulisan laporan dengan tulisan yang baku, belajar dari teori-teori ilmiah dengan memahami konsep dan dalam pengimplementasian akan merasa kesulitan. Karena itu, orang akademisi itu susah terjun kelapangan tetapi sangat cocok sebagai konseptor sebuah project.

Begitu juga seorang praktisi, mengerjakan project secara langsung dengan langkah-langkah yang fleksibel dan tanpa terpaku pada teori, menulis report tidak dengan formal, dan yang penting pembaca paham atas laporannya, lebih banyak belajar dari lapangan dibandingkan teori. Sehingga praktisi cocok menjadi team lead dalam suatu project dan keunggulan seorang praktisi adalah hebat dalam menyelesaikan masalah secara tepat.

Dua aspek tersebut sangat berkaitan erat, jika dikaitkan dengan pekerjaan sebagai jurnalis, sebelum mencari informasi seorang jurnalis pun harus tau bagaimana cara mendapatkan suatu informasi, mengenali sumber beritanya, paham dengan teknik wawancara, teknik menulis berita, bahasa jurnalistik, dan yang terpenting paham dengan kode jurnalistik. Tidak semuanya teori-teori tersebut didapatkan oleh seorang praktisi di lapangan, karena itu semua diajarkan oleh seorang akademisi. Oleh karena itu seorang praktisi juga membutuhkan teori.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.